Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

NASA Temukan Tata Surya dengan 6 Planet

NASA / Tim Pyle Konsep artis mengenai Kepler 11. Kepler-11 adalah bintang serupa Matahari yang memiliki sistem dengan enam planet.
Teleskop luar angkasa Kepler telah membuat penemuan menakjubkan. Lewat konferensi pers yang digelar NASA, hal utama yang diumumkan adalah bahwa Kepler telah menemukan lebih dari 1200 planet dengan 54 diantaranya potensial mendukung kehidupan.

Namun, di luar isu utama tentang penemuan planet yang bisa dihuni itu, Kepler menyimpan temuan lain yang tak kalah menakjubkan. Teleskop luar angkasa yang baru beroperasi tahun 2009 ini menemukan sebuah tata surya baru beranggotakan 6 buah planet. Seluruh planet mengorbit satu bintang induk yang dinamai Kepler 11.
Tata surya baru itu berjarak 2000 tahun cahaya dari bumi. Tata surya ini unik sebab merupakan tata surya pertama yang memiliki jumlah planet transit lebih dari 3. Dalam konferensi pers yang digelar, NASA mengatakan, "Ini adalah grup terbesar planet transit mengorbit satu bintang induk yang pernah ditemukan di luar tata surya kita."

Planet transit secara sederhana bisa dikatakan sebagai planet yang sedang melewati muka bintang atau planet lain sehingga tampak seperti singgah di bintang tersebut. Proses transit yang terjadi mirip proses gerhana. Bedanya, dalam proses transit, benda yang lebih kecil berada di depan benda yang lebih besar sehingga benda kecil itu akan tampak seperti titik di benda besar. Sementara dalam gerhana, benda yang lebih besar melintas di muka benda yang lebih kecil sehingga menutupi. Besar kecil benda relatif dari sudut pandang pengamat. Dalam tata surya kita, tak jarang ditemui Merkurius transit di muka matahari atau planet lain.

Temperatur seluruh planet lebih panas dari Venus, sekitar 400 hingga 1400 derajat Fahrenheit. Para astronom mengungkapkan, seluruh planet yang mengorbit Kepler 11 memiliki ukuran lebih besar dari bumi. Rentang ukurannya sekitar 2 hingga 4,5 kali massa bumi. Planet yang terbesar diperkirakan memiliki ukuran setara dengan Uranus atau Neptunus. Keseluruhannya ditemukan dengan cara melihat peredupan cahaya bintang induk saat planet melintasi wilayah antara bintang dan teleskop.

Keunikan lain tata surya baru ini adalah arsitekturnya. Anggota tata surya Kepler 11 terdiri atas planet-planet tersusun kompak, memadati area di dekat bintang induk. Sebanyak 5 planet seolah mengumpul saling berdekatan sementara 1 lainnya tampak "terpental" karena sedikit terpisah. Planet terdekat adalah Kepler 11-b yang jarak dengan bintang induknya 10 kali lebih dekat dari jarak Bumi-Matahari. Sementara planet terjauh adalah Kepler 11-g yang jarak dengan bintang induknya 1/2 jarak Bumi-Matahari.

Sejauh ini, belum diketahui adanya tata surya dengan arsitektur sedemikian unik. Sebanyak 5 planet yang seolah mengumpul adalah Kepler 11-b, Kepler 11-c, Kepler 11-d, Kepler 11-d dan Kepler 11-e. Sementara, planet yang sedikit terpental adalah Kepler 11-g. Seluruhnya merupakan planet yang terdiri atas campuran batuan, gas dan mungkin air.

Planet Kepler 11-d, Kepler 11-e dan Kepler 11-f mempunyai jumlah gas ringan yang signifikan, menandakan bahwa ketiganya baru terbentuk dalam jangka waktu beberapa juta tahun terakhir. Seluruh planet memiliki waktu revolusi antara 10-47 hari.

Dengan penemuan tata surya baru ini, Kepler semakin memantapkan posisinya sebagai teleskop luar angkasa unggulan masa kini. Prediksi Geoff Marcy, astronom dari University of California di Berkeley, pada tahun 2020 Kepler akan menemukan setidaknya 10.000 planet. Sementara pada tahun 2030, jumlahnya temuannya bisa bertambah 20.000 lagi. Hingga konferensi NASA kemarin, Kepler telah menemukan 1235 planet.
Read More..

Planet Mirip Bumi Mungkin Sangat Umum

NASA Ilustrasi Kepler-11, bintang mirip Matahari yang dikelilingi enam planet.
Seberapa umum planet mirip Bumi di luar tata surya? Seth Shostak, astronom program Search for Extraterrestrial Inteligence (SETI) mengatakan bahwa jumlahnya mungkin umum.

"Dunia mirip Bumi mungkin sama umumnya dengan jumlah semut yang ditemui saat berpiknik," katanya seperti dilansir situs astronomi Space.com. Tanggapannya muncul seiring dengan temuan 54 kandidat planet yang berpotensi mendukung kehidupan, hasil pengamatan dengan teleskop ruang angkasa Kepler.

Shostak mengatakan, sebanyak 54 kandidat planet memang masih sedikit untuk menyakini adanya kehidupan. Namun, ia percaya masih terdapat banyak kandidat planet lagi. "Yang Anda butuhkan bukan hanya 50, lebih banyak lagi. Tapi, fakta menunjukkan bahwa terdapat jauh lebih banyak kandidat planet yang ada," paparnya.

Meski planet mirip Bumi mungkin sangat umum, namun hal itu tak menjamin adanya kehidupan di planet tersebut. Jika pun ada, mungkin juga bukan kehidupan cerdas. "Mungkin juga banyak terdapat kehidupan, tetapi sangat sedikit makhluk pintar yang bisa berkomunikasi lewat radio transmitter," kata Shostak.
Yang jelas, temuan Kepler telah membantu astronom untuk memantapkan persamaan Drake. Persamaan itu digunakan SETI untuk memprediksikan kemungkinan komunikasi dengan alien. Persamaan Drake mendasarkan pada 7 parameter, di antaranya fraksi bintang yang memiliki planet dan fraksi planet yang memiliki kemungkinan untuk mendukung kehidupan.

Shostak berpendapat, temuan Kepler dapat secara langsung memengaruhi perhitungan dengan persamaan tersebut. Akibatnya, prediksi pun bisa berubah.
Read More..

Bintang Laju Ciptakan Riak Debu

Riak kabut kuning yang terbentuk karena laju bintang raksasa Zeta Ophiuchi di bagian tengah.
Bintang-bintang dan galaksi seolah tak henti menyuguhkan pemandangan elok bagi kita. Awal minggu ini teleskop ruang angkasa NASA mengirimkan foto gerakan kabut kuning kosmis yang terbentuk karena laju bintang raksasa Zeta Ophiuchi.

Bintang yang memancarkan cahaya 65.000 kali l ebih banyak daripada Matahari ini melaju di ruang angkasa dengan kecepatan lebih dari 85.000 kilometer per jam akibat hempasan gravitasi saat sebuah bintang pendampingnya meledak dalam supernova.

Laju Zeta Ophiuchi menyibak kabut gas dan debu di depannya, sehingga membentuk riak seperti gerakan air di depan perahu. Teleskop ruang angkasa Wide-field Infrared Survey Explorer milik NASA menangkap gambar yang tidak terlihat dengan cahaya tampak ini.
Read More..

Misi ke Mars Cari Fosil Makhluk Hidup

Gunung Olympus di Planet Mars
Setelah empat dekade berjalan, kini misi Mars memasuki babak baru. Eksplorasi yang semula banyak berkutat pada pencarian air, kini meluas pada upaya mencari tanda-tanda kehidupan di planet merah itu. "Kami akan memasuki transisi dari misi mencari air menjadi misi mencari tanda kehidupan," kata Doug McCuistion, direktur Program Eksplorasi Mars NASA pada diskusi panel di National Air and Space Museum di Washington.

Babak baru eksplorasi Mars itu dimulai seiring dengan peluncuran pesawat antariksa NASA, Curiosity. Pesawat antariksa ini berbeda dengan Spirit dan Opportunity yang diluncurkan sebelumnya sebab ukurannya yang lebih kecil.

Namun demikian, bukan berarti pesawat ini kalah canggih. Curiosity akan bermuatan instrumen yang lebih kompleks. Di samping itu, pesawat antariksa ini juga akan dilengkapi dengan laboratorium kimia on board.

Curiosity juga akan dilengkapi "kamera kimia". McCuistion mengatakan, alat tersebut bisa menembakkan laser pada batuan dan membuat plasma yang bisa dianalisanya sehingga bisa mengidentifikasi sampel.

Dalam misi pencarian tanda kehidupan itu, pencarian senyawa organik menjadi agenda penting yang dilakukan. Senyawa itu bisa menjadi petunjuk adanya atau pernah adanya kehidupan di Mars.

"Salah satu yang pertanyaan kunci yang kita ajukan adalah, dimana senyawa organik itu ada," kata Jennifer Eigenbrode, ilmuwan dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Amerika Serikat.

Menjawabnya, peneliti mengungkapkan logika bahwa kehidupan yang mungkin pernah ada bisa meninggalkan senyawa organik. Sama seperti hewan yang meninggalkan fosil, mikroorganisme juga bisa meninggalkan jejak keberadaannya.

Eigenbrode mengatakan, "Dalam kondisi tertentu, senyawa organik (yang terbentuk atas ikatan karbon) bisa terawetkan. Ini disebut fosil molekuler." Misalnya, terdapat dalam bentuk membran sel mikroorganisme yang terawetkan.

Curiosity rencananya akan dilengkapi dengan peralatan yang bisa mendeteksi fosil molekuler ini. Jadi, Curiosity bisa mengetahui bentuk kehidupan sekecil mikroorganisme yang ada di Mars.

Meski dilengkapi peralatan canggih, hambatan dalam studi tetap ada. Utamanya bukan dari segi peralatan yang kurang memadai, tetapi pada keterbatasan pengetahuan atau konsep yang dikuasai.

Salah satunya tentang senyawa organik. Jika nantinya benar ditemukan, senyawa ini tak lantas menjadi tanda ada kehidupan di Mars. Sebab, bisa saja senyawa itu berasal dari meterorit atau terbentuk lewat proses geologi Mars.

Kedua adalah pengertian tentang kehidupan. Misalnya, saat ini dipahami bahwa makhluk hidup selalu membutuhkan air. Tetapi, apakah memang benar demikian? Apakah tidak ada senyawa lain, semisal metana, yang bisa mendukung kehidupan?

Terkait dengan hal terakhir, European Space agency (ESA) dan NASA pada tahun 2016 akan bekerja sama melaksanakan misi ke Mars. Tujuannya adalah untuk mencari metana, menggali permukaan Mars untuk menemukan bentuk kehidupan yang mungkin ada. Read More..

Kerumunan Bintang di Flickr

Citra Nebula Orion yang dibuat Igor Chekalin.
Coba cek Yahoo! Flickr. Buka koleksi foto ESO Hidden Treasures. Anda akan menemukan foto-foto antariksa mengagumkan olahan fotografer amatir dan astronom amatir yang punya sense artistik. Foto-foto tersebut merupakan hasil kompetisi yang digelar European Southern Observatory (ESO) yang bertajuk Hidden Trasures Astrophotography Contest. Dalam lomba itu, ESO meminta pesertanya untuk mengolah citra angkasa hitam putih yang berhasil ditangkap menjadi foto-foto menarik.

Salah satu koleksi foto terbaik adalah yang dijepret oleh Igor Cheakalin dari Rusia. Ia berhasil mengubah citra Nebula Orion yang milik ESO menjadi foto nebula yang menawarkan warna natural seperti pink dan biru. Dalam mengolahnya, ia mencoba menggunakan beberapa kombinasi baru channel.

Foto lainnya menunjukkan citra 3 galaksi spiral, yaitu NGC 3169, NGC 3166 dan NGC 3165. NGC 3169 adalah galaksi spiral yang terletak di konstelasi Sextans. Galksi ini secara memiliki interaksi dengan galaksi NGC 3166 yang terletak berdekatan dengannya.

Selain foto Igor, terdapat pila foto M Rasid Tugral yang menunjukkan NGC 288, kluster globuler di konstelasi Scluptor. Dalam citra olahannya, NGC 288 tampak seperti citra kerumunan ribuan bintang. Tugral juga mengolah citra Messier 74, galaksi spiral di konstelasi Pisces.

Pihak ESO mengatakan, memroses citra angkasa tergolong sulit, membutuhkan dukungan alat yang kompleks seperti Scisoft. Tapi para amatir ini bisa melakukan sebaik para profesional. Dikatakan, pemenang kontes ini akan memenangkan trip ke Chile.
Read More..

Observatorium La Silla, Apa Sih Bagusnya?

Observatorium La Silla
Observatorium La Silla adalah salah satu observatorium terbesar di wilayah lintang selatan. Observatorium ini adalah salah satu tempat di mana penemuan planet, bintang, serta asteroid banyak ditemukan.
Apa sih kelebihan observatorium ini? Johny Setiawan, salah satu astronom yang menggunakan fasilitas La Silla untuk melakukan observasi, mengatakan, "Letaknya jauh dari permukiman, 2-3 jam perjalanan dari kota terdekat."

La Silla terletak di Gurun Atacama, Cile, pada ketinggian 2.400 meter. Letaknya yang jauh dari permukiman dan berada di wilayah yang lapang membantu kerja para astronom. Polusi cahaya sangat minimal, membantu proses pengamatan.

Johnya menambahkan, "Kelebihan lain adalah teleskop-teleskop yang ditunjang oleh instrumen modern dan canggih. Misalnya, spektrograf beresolusi dan berkecepatan tinggi, kamera beresolusi superkamera inframerah, dan sebagainya."
"Tidak banyak observatorium di dunia yang koleksi instrumennya seperti di La Silla. Jadi, walaupun tenaga logistik dan support sedikit, La Silla tetap bisa bersaing dengan observatorium lainnya di AS dan Eropa," tandas Johny.

Observatorium La silla dibangun pada tahun 1969. Sebanyak 18 teleskop terdapat di observatorium ini dengan sembilan di antaranya diinstal oleh European Southern Observatory (ESO). Planet yang ditemukan di observatorium ini, di antaranya, HIP 13044b.
Read More..

Kenapa Harus Planet di Luar Tata Surya?

Planet di luar tata surya
Salah satu tren dalam penelitian astronomi masa kini adalah riset planet di luar tata surya atau biasa disebut ekstrasolar atau ekstrasurya. Planet itu didefinisikan sebagi sebuah planet yang terletak di luar tata surya kita atau sistem matahari.

Mengapa planet itu menarik dipelajari dan jadi tren? Johny Setiawan, astronom Indonesia yang tertarik mempelajarinya mengatakan, planet itu menarik sebab bisa digunakan untuk mempelajari keberadaan manusia di bumi dan kehidupan di alam semesta.

"Saya tertarik untuk mempelajari keberadaan kita di alam semesta. Yang paling dekat ya memang mempelajari planet ekstrasurya," katanya. Mempelajari planet itu bisa menjawab pertanyaan apakah manusia di bumi sendirian di alam semesta.

Ia mengatakan, pembelajaran tentang planet ekstrasurya masih dalam tahap awal hingga menengah. "Namun, ilmu pengetahuan tidak ada yang instant," katanya. Butuh waktu lama hingga mencapai kesimpulan.
Kelak, hasil penelitian planet ekstrasurya bisa memiliki andil besar dalam memahami asal muasal tata surya kita, bumi, manusia dan maknanya di alam semesta.
Read More..

Siapa Dia Johny Setiawan?

Johny Setiawan
Kita patut berbangga setiap ada putra bangsa yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Salah satunya di bidang astronomi ada nama Johny Setiawan, yang dikenal sebagai penemu banyak planet ekstrasurya.Dr rer nat Johny Setiawan adalah astronom asal Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Departemen Pembentukan Bintang dan Planet, Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman. Selama tujuh tahun berkarya sebagai peneliti sejak tahun 2003, astronom yang menjuluki dirinya "astronom gokil" ini telah menemukan 15 planet ekstrasurya alias planet-planet di luar tata surya kita.

Planet terakhir yang ditemukannya adalah HIP 13044b, sebuah planet yang mengorbit bintang lansia dan minim kandungan logam, HIP 13044. Penemuan ini mampu membuka cara pandang baru tentang proses pembentukan bintang sebab saat ini diyakini bahwa bintang tua dan minim kandungan logam tak mungkin memiliki planet.

Akhir tahun 2010, penemuan HIP 13044b dinobatkan sebagai 10 penemuan sains terbaik 2010 versi majalah Times. Temuan astronom yang kini berusia 36 tahun itu bisa disejajarkan dengan temuan Gliese 581g yang merupakan asing planet mirip Bumi dan temuan para fisikawan di European Organization for Nuclear Research.
Read More..

Galaksi Terjauh dan Tertua Terekam Teleskop

Galaksi terjauh da tertua terekan teleskop Hubble dan Spitzer.
Teleskop ruang angkasa Hubble dan teleskop Spitzer kembali memecahkan rekor dengan merekam galaksi tertua dan terjauh di alam semesta. Galaksi tersebut diperkirakan terbentuk sejak 13 miliar tahun lalu.

Galaksi yang diberi nama A1689-zD1 terbentuk saat alam semesta baru berusia sekitar 700 juta tahun. Ia termasuk di antara galaksi-galaksi yang pertama kali terbentuk. Bentuknya berbeda sekali dengan galaksi Bimasakti.


"Ukurannya lebih kecil. Ia tipis. Ia memiliki dua pusat bukan satu dan memiliki formasi bintang-bintang yang ekstrim," kata Holland Ford, profesor astronomi dari Johns Hopkins University.
Galaksi itu tepatnya diperkirakan berada pada jarak 12,8 miliar tahun cahaya atau setara dengan 0,121088 quadrillion kilometer. (1 tahun cahaya = 9.467.280.000.000 kilometer)
Untuk melihat objek sejauh itu, para astronom menggunakan trik yang disebut lensa galaksi. Sekelompok galaksi yang lebih dekat dengan Bumi membentuk lensa yang memperkuat daya pandang teleskop.

Gaya gravitasi yang kuat di sekitar kluster galaksi akan membelokkan cahaya yang datang dari belakangnya sehingga menimulkan efek pembesaran jika objek dilihat dari Bumi. Dalam pengamatan kali ini, galaksi tertua terlihat 10 kali lebih dekat dengan efek tersebut.  

Meski hanya dalam gambar hitam putih dan buram, rekaman ini merupakan foto paling jelas untuk melihat objek sejauh itu. Dengan teleskop lebih canggih, termasuk penerus Hubble yang akan diluncurkan pada 2013, objek-objek seperti ini akan menarik untuk dipelajari.
Read More..

Hubble Ungkap Puluhan Peristiwa Tabrakan Galaksi

Sejumlah foto tabrakan galaksi dari 59 foto yang berhasil diungkap teleskop ruang angkasa Hubble.
Tabrakan antargalaksi bukan lagi peristiwa langka di luar angkasa dan dapat terjadi dalam banyak cara. Teleskop ruang angkasa Hubble telah mengungkap puluhan kejadian yang menakjubkan tersebut dalam sejumlah foto yang direkam sejak beroperasi.


Peristiwa tersebut tentu lebih sering terjadi di awal perkembangan alam semesta. Saat itu ruang lebih sempit, jarak antara galaksi yang satu dengan lainnya lebih dekat sehingga peluang tabrakan lebih besar.
Tabarkan galaksi dipicu gaya gravitasi atau tarik-menarik dari dua galaksi yang saling berdekatan. Biasanya, proses tabrakan diawali dengan pembentukan jembatan material, berupa rantai gas dan debu yang menghubungkan kedua galaksi. Meski pertemuan ini berjalan hingga ratusan kilometer per jam, proses tabrakan bisa berlangsung ratusan juta tahun.

Gas dan debu akan berangsur-angsur terkumpul di inti galaksi. Saat kedua intinya sangat dekat,gas dan debu akan tertarik dengan sangat cepat dan menghasilkan getaran kuat yang tersebar ke segala arah. Kumpulan gas dan debu yang sangat pekat merupakan tempat kelahiran bintang-bintang baru yang berwarna biru saat masih muda.

Proses interaksi yang dapat memicu tabrakan tidak berhenti saat ini. Galaksi Bima Sakti yang merupakan tempat tata surya kita berada, misalnya, diperkirakan akan bertabrakan dengan galaksi terdekat, andromeda, sekitar 2 miliar tahun lagi dan membentuk Milkomeda. Bima Sakti juga tengah menyedot galaksi lebih kecil yang disebut galaksi galaksi elips kerdil Sagitarius.
 
Teleskop Hubble berhasil merekam tabrakan galaksi dalam berbagai tahap. Bentuknya juga sangat bervariasi, jika dilihat sekilas ada yang seperti sebuah sikat gigi, atau seekor burung hantu yang tengah terbang. Semuanya ada 59 foto tabrakan galaksi sebagai peringatan 18 tahun peluncuran Hubble.
Read More..

Ledakan Bintang Termuda di Galaksi Bima Sakti

NASA/CXC/NCSU/S.
Para astronom telah mendeteksi terjadinya supernova di Galaksi Bima Sakti yang terjadi 140 tahun lalu. Ledakan bintang yang terjadi di dekat pusat Galaksi Bima Sakti itu mungkin peristiwa supernova paling muda sepanjang catatan sejarah.

Peristiwa tersebut didaftarkan dengan nama G1.9+0.3. Lokasi kejadian berada pada rasi bintang Sagitarius yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi.

Terjadinya supernova tersebut sekitar dua abad lebih muda daripada Cassiopeia A, supernova termuda sebelumnya di Galaksi Bima Sakti yang terjadi tahun 1680. Tim astronom yang dipimpin Stephen Reynolds dari Nortyh Carolina State University tidak merekamnya langsung dengan teleskop namun melacaknya dari jejak partikel-partikel yang dipancarkan ke sekitarnya.

Partikel yang disebut SNRs (supernova remnants) ini tak terdeteksi teleskop optik namun jelas terlihat menggunakan teleskop radio atau sinar-X. Identitas supernova dianalisis dari citra rekaman teleskop di observatorium sinar-X Chandra dan teleskop radio VLA (very large array) di National Radio Astronomy Observatory.

"Beruntung sekali, pergerakan gas akibat ledakan ini masih jelas terlihat dalam gelombang radio dan sinar-X meski sudah ribuan tahun," ujar Reynolds yang melaporkan penelitian tersebut dalam the Astrophysical Journal. Pacaran cahaya akibat ledakan tersebut diperkirakan dapat dilihat antara tahun 1870-1900 dan mungkin telah menghasilkan bintang baru.

Supernova selama ini memang diyakini memegang peran penting dalam siklus hidup matinya galaksi. Ledakan tersebut terjadi saat sebuah bintang mendekati ajalnya karena kehabisan seluruh bahan bakarnya. Hal tersebut menyebabkan dindingnya runtuh ke dalam intinya dan memicu reaksi ledakan yang memancarkan semua materinya dan cahaya menyilaukan.

Pancaran partikel ikut memicu pembentukan bintang baru. Di lain pihak, seiring dengan bergeraknya partikel-partikel yang dipancarkan, pusat ledakan dapat membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Supernova tergolong jarang karena saat ini diperkirakan terjadi tiga supernova di Galaksi Bima Sakti dalam seabad.
Read More..

Galaksi Bima Sakti Lebih Ringan

Ilustrasi Galaksi Bima Sakti
Massa Galaksi Bima Sakti diprediksi sekitar 1 triliun kali massa Matahari. Namun, hasil perhitungan terbaru ini lebih kecil dari prediksi sebelumnya. Perkiraan sebelumnya menyatakan bahwa massa galaksi yang menjadi rumah tata surya itu diperkirakan mencapai 2 triliun kali massa Matahari meski dengan estimasi minimum 750 juta kali. Namun, dengan data-data lebih banyak saat ini, para pakar astrofisika dapat memprediksi massanya dengan lebih akurat.

Perkiraan ini diperoleh berdasarkan hasil perkiraan massa kumpulan bintang-bintang yang teramati di bagian halo galaksi tersebut. Halo di sini merupakan bagian galaksi yang berada di cakram utama. Dengan mengukur kecepatan edar bintang-bintang tersebut, besar gaya gravitasi yang diperlukan galaksi untuk menjaganya di orbit dapat diketahui. Massa galaksi juga dapat diketahui dari hasil turunan persamaan dalam perhitungan ini. "Galaksi ini ternyata lebih ringan dari perkiraan kita," ujar Xiangxiang Xue dari Observatorium Astronomi Nasional China, ketua tim peneliti. Namun, hal tersebut juga menunjukkan bahwa kandungan materi hitam tidak sebesar perkiraan.

Massa galaksi merupakan campuran antara bintang-bintang, debu kosmis, gas, dan materi hitam yang masih misterius wujudnya. Dengan kandungan materi hitam yang tidak banyak, ini berarti konversi energi galaksi menjadi helium dan hidrogen, yang merupakan bahan bakar bintang, lebih efisien. "Total massa galaksi sulit dihitung karena kita berada di dalamnya. Namun, hal tersebut harus diketahui jika kita ingin memahami bagaimana Galaksi Bima Sakti terbentuk atau membandingkannya dengan galaksi asing yang terlihat utuh dari Bumi," ujar Timothy Beers, peneliti lainnya dari Michigan State University, AS.

Prediksi sebelumnya hanya menggunakan data 500 bintang. Sementara prediksi terakhir telah menggunakan data lebih dari 2.400 bintang. Semakin besar data yang dipakai, semakin tinggi tingkat akurasinya. Hasil penelitian terbaru ini akan dipublikasikan dalam Astrophysical Journal.
Read More..

Lubang Hitam di Galaksi Tetangga

Galaksi spiral NGC 253 atau Galaksi Sculptor dengan lubang hitam yang diduga kembaran Sagittarius A di Galaksi Bima Sakti.
SEBUAH lubang hitam (black hole) terdeteksi di galaksi yang dekat dari Galaksi Bimasakti. Lubang hitam tersebut mungkin kembaran lubang hitam yang ada di galaksi tempat tata surya kita berada.
Galaksi yang disebut NGC 253 merupakan salah satu galaksi spiral yang mengandung banyak sekali bintang dan debu angkasa yang pekat. Karena letaknya di konstelasi Sculptor, galaksi tersebut juga disebut Galaksi Sculptor. Galaksi tersebut juga disebut galaksi starbust karena banyaknya bintang yang terbentuk di dalamnya.
Para astronom dari Instituto de Astrofisica de Canaries di Spanyol berhasil merekam dengan detik galaksi tersebut menggunakan instrumen optik adaptif di teleskop raksasa VLT (very large telescope) milik ESO (European Southern Observatory) yang ada di Gurun Atacama, Chili. Peralatan tersebut dilengkapi dengan instrumen optik dan cermin yang mengatasi efek blur akibat pembiasan di atmosfer sehingga kemampuan teleskop terestrial ini setara dengan teleskop ruang angkasa.
"Pengamatan kami menghasilkan rincian gambar yang jauh lebih jelas," ujar Juan Antonio Fernandez-Ontiveros. Dari gambar tersebut, para astronom menemukan 37 daerah cemerlang yang berada di satu kawasan sempit di pusat galaksi.
Bintang-bintang yang sangat rapat itu berkumpul di satu daerah yang hanya mewakili satu persen besar galaksi. Di kawasan tersebut mungkin terdapat pusat kelahiran bintang yang terbentuk di gumpalan debu yang sangat pekat.
Selain itu, hasil pemantauan yang dikombinasikan dengan pengukuran gelombang maupun citra teleskop ruang angkasa Hubble menunjukkan adanya aktivitas gelombang radio yang sangat tinggi di kawasan tersebut. Para peneliti yakin di pusat galaksi ini terdapat sumber pancaran gelombang radio seperti Sagittarius A di dekat pusat galaksi Bima Sakti yang merupakan tempat terbentuknya lubang hitam.
"Kami mungkin menemukan kembaran pusat galaksi kita," ujar Almudena Prieto. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Academy Society Letters edisi teranyar.
Lubang hitam merupakan misteri alam yang diperkirakan terbentuk dari bintang sangat besar yang telah mati karena menghabiskan seluruh energinya. Saat pusatnya tak menghasilkan dorongan ke luar, dinding bintang malah runtuh dan menarik obyek-obyek di sekitarnya. Kekuatan gravitasi lubang hitam sangat besar bahkan menarik cahaya ke dalam. Lubang hitam gelap gulita dan hanya terdeteksi dari aktivitas gelombang radio dan obyek-obyek yang terlihat mengelilinginya.
Berdasarkan data NASA, galaksi NGC 253 berada pada jarak sekitar 13 juta tahun cahaya dari Bumi (bukan 11 tahun cahaya seperti tertulis sebelumnya). Galaksi yang menonjol di konstelasi Sculptor ini memiliki lebar bentangan 70.000 tahun cahaya. 1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer.
Read More..

Galaksi Andromeda Telan Bintang Kecil

Galaksi Andromeda tampaknya membesar dengan menelan bintang-bintang dari galaksi lain,
Galaksi Andromeda tampaknya membesar dengan menelan bintang-bintang dari galaksi lain, demikian hasil penelitian.

Ketika sebuah tim ilmuwan memetakan Andromeda, mereka menemukan bintang-bintang yang mereka katakan merupakan "sisa-sisa galaksi kerdil". Para Astronom melaporkan temuan mereka di jurnal Nature.

Mengonsumsi bintang-bintang sudah pernah diperkirakan sebelumnya namun tim survei ini menyediakan rincian gambar untuk menunjukkan hal itu terjadi. Gambar itu menunjukan "model hirarkis" pembentukan galaksi sedang berjalan.

Model itu memprediksi bahwa galaksi besar akan dikelilingi sias-sisa galaksi lebih kecil yang mereka konsumsi. Kalangan ilmuwan memetakan pinggiran Andromeda secara rinci untuk pertama kali.

Pauline Barmby, astronom dari Universitas Western Ontario yang terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada BBC bahwa pola orbit bintang itu mengungkapkan asalnya. "Andromeda begitu dekat sehingga kita dapat memetakan semua bintang," katanya. Andromeda, yang diperkirakan jauhnya 1,5 juta tahun cahaya dari bumi kini terus membesar.
Read More..

Sepuluh Kluster Galaksi Baru Ditemukan

Gugusan bintang di ruang angkasa. Di antaranya ada bintang-bintang yang memiliki planet
Alam semesta akan terlihat semakin padat setiap harinya. Planet, asteroid, bintang dan galaksi ditemukan setiap tahunnya dalam jumlah yang cukup banyak.
Situs web Discovery hari ini memberitakan tentang penemuan 23 kluster galaksi atau gugusan bintang-bintang yang terdiri dari beberapa galaksi oleh Atacama Cosmology Telescope (ACT). Di antara 23 kluster galaksi yang ditemukan itu, 10 di antaranya merupakan kluster galaksi baru. Penemuan itu akan dilaporkan di Astrophysics Journal.
Misi penemuan kluster baru galaksi ini mulai dilakukan pada tahun 2008. Para peneliti menggunakan teknologi ACT yang akan mengumpulkan gelombang mikro untuk mampu mencitrakan kluster galaksi yang ingin ditemukan. Mereka memilih Gurun Atacama di Chile sebagai tempat observasi agar kerja ACT tak banyak terganggu karena banyak uap air.
"Observasi di Atacama yang dipimpin oleh Luman Page dari Princeton University ini bermisi menemukan 'bayangan' yang selama ini dimaksudkan para ilmuwan sebagai kluster galaksi," kata Felipe Menanteau, peneliti dari School of Arts and Science, Rutgers, mengungkapkan tujuan dari observasi itu.
Bayangan yang dimaksud adalah bayangan kluster galaksi yang tercitra dalam ACT. Bayangan tersebut tercipta akibat adanya gas panas dalam kluster kosmik yang menyebabkan radiasi latar belakang kosmik meningkat energinya. Akibat peristiwa itulah, kluster galaksi tampak dalam bentuk bayangan.
Menanggapi hasil penelitian ini, Priyamvada Natarajan, professor fisika dan astronomi yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "Hasil penelitian ini akan membangun inventaris kami tentang bagian alam semesta yang paling jauh dan massif. Ini juga akan memberi tantangan penting pada model kosmos yang sekarang diterima. Saya bangga dengan temuan ini."
Sejumlah peneliti yang terlibat dalam observasi ini, selain Menanteu dan Natarajan, adalah Jack Hughes dari Rutgers dan Jorge Gonzales dari Pontifical Catholic University of Chile (PUC).
Read More..

Inilah Planet Pertama di Luar Bima Sakti

ESO Ilustrasi planet HIP 13044 b, yang mengelilingi sebuah bintang di luar Galaksi Bima Sakti.
Untuk kali pertama, para ilmuwan menemukan sebuah planet di luar galaksi Bima Sakti, bukan hanya di luar tata surya. Selama ini, planet-planet asing di luar tata surya kita atau sering disebut planet ekstrasolar selalu ditemukan di dalam bagian galaksi Bima Sakti.

Namun, sebuah planet yang baru-baru ini terdeteksi diketahui berada di luar tepian galaksi yang mengorbit sebuah bintang yang tengah sekarat pada jarak 2000 tahun cahaya dari Bumi. Planet tersebut berukuran sedikit lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di tata surya, dan sama-sama termasuk jenis planet gas panas.

"Penemuan ini sangat mengejutkan. Karena jaraknya yang sangat jauh, selama ini tidak ada planet-planet yang terdeteksi di galaksi lainnya," ujar Rainer Klement dari the Max Planck Institute of Astronomy. Yang lebih mengejutkan lagi, kepala ilmuwan yang meneliti planet tersebut adalah astronom asal Indonesia yang bekerja di the Max Planck Institute, Johny Setiawan.

Johny Setiawan dan timnya berhasil mendeteksi lokasi bintang dan planet tadi setelah memusatkan perhatian pada sebuah denyut gelombang di permukaan bintang akibat gaya gravitasi planet dan bintang yang sedang mengorbit. Mereka menggunakan teleskop yang dimiliki Laboratorium Selatan Eropa di Observatorum La Silla, Cile, yang dibangun di ketinggian 2.400 meter dan terletak sekitar 600 kilometer utara ibu kota Santiago.

Planet tersebut diberi nama HIP 13044 b. Sistem planet dan bintang tersebut diduga bagian dari arus helmi, sekelompok bintang yang tercerai-berai dari galaksi mini yang hancur setelah disedot galaksi Bima Sakti antara 6 dan 9 miliar tahun lalu. Planet dan bintang tersebut juga diperkirakan tengah bergerak ke arah Bima Sakti sebelum melebur.

Bintang merah raksasa
Bintang yang dikelilingi planet HIP 13044 b itu termasuk jenis bintang merah raksasa yang sedang memasuki fase kehancurannya. Ukurannya menggembung menjadi sangat besar karena hampir seluruh energi dari intinya telah dilepaskan. Planet menjadi sangat panas karena mengorbit dekat sekali dengan bintang tersebut.

Selain mengorbit sangat dekat, planet tersebut mengelilingi bintangnya dengan sangat cepat dan dalam periode 16 hari saja. Para ilmuwan pun memperkirakan umur planet tersebut tidak lama sebelum hancur menabrak bintangnya.

"Penemuan ini sangat menarik untuk melihat masa depan sistem tata surya kita karena Matahari juga diperkirakan akan menjadi bintang merah raksasa lima miliar tahun lagi," ujar Johny.
Read More..

Ada "Lho" Galaksi Kanibal

NASA Galaksi NGC 4150 sedang memakan galaksi lainnya
Ternyata ada lho galaksi kanibal. Galaksi tersebut "memakan" galaksi tetangganya sehingga bisa mempertahankan diri tetap awet muda, dalam arti tetap mampu memproduksi bintang-bintang.

Para astronom baru-baru ini mempelajari NGC 4150, sebuah galaksi elips (galaksi yang memiliki bentuk seperti telur) tua yang ditemukan masih memproduksi bintang walaupun sudah tergolong lanjut usia.

Galaksi tersebut bisa dikatakan tetap awet muda. Rahasia awet mudanya sendiri adalah kanibalisme, artinya galaksi itu memakan galaksi lain. Diketahui, NGC 4150 memakan galaksi yang lebih kecil sehingga bisa mendapatkan energi untuk melanjutkan proses kehidupannya.

"Galaksi-galaksi elips seharusnya sudah selesai membuat seluruh bintangnya miliaran tahun yang lalu," kata Mark Crockett, peneliti dari University of Oxford. Namun, ia mengatakan, "Kami menemukan banyak bintang lahir dari galaksi elips, galaksi yang dibuat berdaya dengan proses memakan galaksi lain yang lebih kecil," lanjut Crockett.

Crockett dan timnya berpendapat, galaksi NGC 4150 itu bertumbukan dengan galaksi lain miliaran tahun yang lalu. Galaksi yang bertumbukan dengan NGC 4150 itu kaya akan gas sehingga bisa memberi "bahan bakar" bagi NGC 4150 untuk tetap memproduksi bintang.

Galaksi yang dimakan oleh NGC 4150 memiliki karakteristik tertentu. Astronom lain yang juga terlibat dalam studi ini, Sugata Kaviraj, mengatakan, "Kelimpahan logam dalam bintang yang baru dilahirkan sangat sedikit sehingga galaksi yang dimakan oleh NGC 4150 itu pasti juga miskin logam." Diperkirakan, ukuran galaksi yang dimakan tersebut adalah seperduapuluh dari ukuran NGC 4150.

Crockett dan timnya menggunakan Hubble Space Telescope milik NASA untuk melakukan pengamatan galaksi dalam penelitian ini.

Lewat pengamatannya, mereka menemukan bahwa dalam galaksi NGC 4150 terdapat kumpulan bintang yang masih muda, berusia kurang dari satu miliar tahun. Bintang-bintang tersebut membentuk struktur cincin yang berdiameter 1.300 tahun cahaya, 85 juta kali jarak Matahari dan Bumi.

Peneliti mengatakan, kunci dari pengamatan galaksi ini adalah penggunaan sinar ultra violet yang mampu mengamati kilauan biru dari bintang muda dan memisahkannya dari warna kemerahan bintang-bintang yang sudah tua.
Read More..

Kluster Galaksi Terjauh Sudah Ditemukan

Cosmos-Aztec3
National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan tim astronom internasional berhasil menemukan kluster galaksi terjauh di semesta. Kluster bernama Cosmos-Aztec3 tersebut berjarak 12,6 juta tahun dari bumi dan merupakan kluster galaksi termuda yang pernah ditemukan.
Profesor Bahram Mobasher dari Universitas California yang terlibat dalam studi ini mengatakan, kluster tersebut merupakan sebuah kluster galaksi yang sedang dalam proses pembentukan, yang disebut dengan proto kluster.
"Berumur lebih dari 12 miliar tahun, kluster tersebut terbentuk 1 miliar tahun setelah Big Bang," ujarnya.
Kluster galaksi ini dilukiskan seperti kumpulan kota-kota kecil. Suatu saat, galaksi-galaksi kecil itu akan bergabung membentuk galaksi yang lebih besar, seperti kota kecil yang tumbuh menjadi metropolitan. Atau, bisa juga disebut kluster galaksi primitif yang akan berkembang menjadi galaksi modern.
Cosmos-Aztec3 ini ditemukan dan dikarakterisasi dengan beragam teleskop, mulai dari Chandra X-Ray Observatory dan James Clerk Maxwell, hingga teleskop Subaru milik Jepang dan Hubble and Spitzer milik NASA. Tiap teleskop digunakan untuk tujuan karakterisasi yang berbeda.
Penemuan kluster ini ternyata cukup mengejutkan sebab observasi dengan Chandra X Ray menemukan adanya lubang hitam yang 3 juta kali lebih masif dari matahari. Hal itu tak lazim ditemukan pada kluster galaksi yang masih berusia muda seperti Cosmos-Aztec3.
Hal lain yang mengejutkan adalah, keseluruhan obyek dalam kluster itu memiliki massa lebih dari 400 miliar matahari. Kluster galaksi ini juga sangat aktif, kaya gas dingin, tumbuh dengan kecepatan yang signifikan, serta mampu membentuk 4.000 bintang setiap tahun.
Cosmos-Aztec3 diketahui terletak di konstelasi Sextans. Namanya diambil dari nama misi pencariannya, yakni Cosmos (Cosmic Evolution Survey). Sementara itu, Aztec adalah nama kamera yang terdapat di James Clerk Maxwell Telescop di Manua Kea, Hawai.
Adapun penemuan ini dipublikasikan dalam Jurnal Nature edisi terbaru. Tim peneliti yang terlibat dalam riset ini juga mempresentasikannya dalam pertemuan tahunan American Astronomical Society yang berlangsung pekan ini di Seattle, Amerika Serikat.
Read More..

4 Astronom Indonesia Jadi Nama Asteroid

Asteroid Steins, salah satu asteroid besar yang tengah dipelajari para ilmuwan untuk mengungkap asal-usul alam semesta.
Himpunan Astronomi Internasional atau International Astronomical Union (IAU) memberikan penghargaan bagi dunia astronomi di Indonesia. Empat nama astronom asal Indonesia yang pernah mengelola Observatorium Bosscha di Bandung diabadikan sebagai nama asteroid.
Berdasarkan data di International Astronomical Union yang bisa diakses di www.cfa.harvard.edu/iau/lists, ada 4 nama asteroid yang menggunakan nama astronom Indonesia. Keempatnya adalah 12176, 12177, 12178, dan 12179.
Asteroid tersebut sebenarnya ditemukan pada tanggal 16 Oktober 1977 dalam program Palomar-Leiden Trojan Survey. Penemunya adalah suami istri Cornelis Johannes van Houten dan Ingrid van Houten-Groeneveld.
Nama astronom Indonesia yang digunakan adalah Bambang Hidayat yang pernah menjabat wakil presiden IAU pada tahun 1994-2000. Berkat tambahan namanya, kini asteroid 12176 disebut 12176 Hidayat/3468 T-3.
Selain Bambang, nama Moedji Raharto, mantan Kepala Observatorium Bosscha tahun 1999-2004 juga digunakan untuk menamai asteroid 12177. Kini, asteroid tersebut menjadi 12177 Raharto/4074 T-3.
Sementara, asteroid 12178 kini menjadi 12178 Dhani/4304 T-3, sesuai dengan nama ahli Fisika Matahari Dhani Hendrawijaya yang pernah menjabat sebagai direktur Observatorium Bosscha pada tahun 2004-2006.
Terakhir, nama Taufiq Hidayat, direktur Observatorium Bosscha tahun 2006-2010 digunakan untuk menamai asteroid 12179. Sekarang, nama asteroid tersebut menjadi 12179 Taufiq/5030 T-3.
Menurut situs Langitselatan.com yang dikelola salah satu peneliti di Bosscha, Avivah Yamani, bukan kali ini saja, para astronom di observatorium tersebut mendapat kehormatan dari IAU. Sejak zaman Belanda, para mantan kepala Observatorum Bosscha maupun astronom Indonesia pun digunakan dalam penamaan benda-benda langit.
Asteroid adalah benda yang lebih kecil dari planet tetapi lebih besar dari meteoroid. Asteroid berbeda dengan komet sebab tidak memiliki ekor atau koma. Asteroid pertama yang ditemukan adalah Ceres, pada tahun 1801.
Read More..

2013, Wisata Luar Angkasa Kembali Dibuka

Stasiun Antariksa Internasional (ISS).
Perusahaan asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang wisata luar angkasa, Space Adventures, akan kembali membuka kesempatan bagi para turis yang tertarik berkunjung ke stasiun antariksa internasional pada tahun 2013.
Menurut perjanjian yang baru dengan badan luar angkasa Rusia, Roscosmos, dan produsen pesawat luar angkasa RSC Energia, akan ada tiga kursi tambahan yang tersedia di kapsul luar angkasa Russian Soyuz mulai tahun 2013.
Pengiriman turis ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) ini disepakati setelah tercapainya kesepahaman untuk meningkatkan produksi pesawat luar angkasa Soyuz dari empat menjadi lima unit per tahun.
"Kami sangat senang mengumumkan kerja sama ini dan ingin berterima kasih kepada rekan dari Rusia atas penambahan produksi Soyuz serta memberi Space Adventures jasa transportasi pada pesawat luar angkasa berawak," kata Kepala Space Adventures Eric Anderson, dalam suatu pernyataan.
Direktur Penerbangan Luar Angkasa Manusia Roscosmos Alexei Krasnov mengatakan, "Penambahan pesawat luar angkasa kelima Soyuz akan menambah fleksibilitas dan pengulangan atas kemampuan transportasi ISS. Kami menyambut kesempatan meningkatkan upaya memenuhi tuntutan publik terhadap akses ke luar angkasa."
Space Adventures yang didirikan pada 1998 merupakan satu-satunya perusahaan yang telah memesan penerbangan pribadi ke ISS. Space Adventures telah merancang delapan penerbangan luar angkasa pribadi untuk tujuh orang sejak 2001. Pada tahun yang sama, pengusaha asal California, AS, Dennis Tito, menjadi penjelajah luar angkasa pertama yang terbang dengan dana pribadi. Setelah itu sejumlah orang kaya lain turut mengarungi angkasa.
Turis dalam misi terakhir Space Adventures adalah seorang miliuner Kanada bernama Guy Laliberte. Pendiri rombongan sirkus Cirque du Soleil ini memanfaatkan perjalanan ke luar angkasanya untuk akses global terhadap air bersih, melalui ogranisasi nirlaba miliknya ONE DROP Foundation. Laliberte dikabarkan membayar 35 juta dollar AS (sekitar Rp 315 miliar) untuk perjalanan angkasa selama 11 hari.
"Sejak Guy Laliberte, ada peningkatan ketertarikan individu, organisasi, dan sektor komersial, yang mencari cara untuk dapat mengakses stasiun luar angkasa. Kami telah berbicara dengan pihak-pihak tersebut tentang program ilmu pengetahuan, pendidikan, dan multimedia, serta berharap dapat membuat sejumlah pemberitahuan besar dalam beberapa tahun mendatang," ujar Anderson.
Ia menambahkan kursi untuk perjalanan luar angkasa ini sudah mulai bisa dipesan. Namun, Anderson enggan memberi tahu dana pasti yang diperlukan seseorang untuk menjelajah luar angkasa. "Kami tidak begitu membicarakan finansial. Tapi, biaya tergantung dari banyak hal, seperti berapa lama waktu di luar angkasa serta tingkat pertukaran mata uang," elak Anderson.
Menurutnya, secara kumulatif pengelana ruang angkasa akan menghabiskan tiga bulan di luar angkasa, menempuh perjalanan sejauh 54 juta kilometer, serta menjadi duta besar dalam berbagi pengalaman dan menjelaskan kepada jutaan orang di dunia tentang pentingnya menjelajahi luar angkasa.
Read More..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
next page