Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Planet Terpanas Lebih Panas dari Bintang

Satu tahun di WASP-33b berlangsung 29 jam karena kedekatan dengan bintangnya.
Astronom yang terlibat dalam proyek Super Wide Angle Search for Planets (SuperWASP) telah menemukan planet terpanas bernama WASP-33b. Suhu planet tersebut lebih panas dari suhu beberapa bintang.
Keberadaan planet itu telah diduga sejak tahun 2006 lalu namun baru dikonfirmasi tahun 2010 kemarin. Diketahui, planet tersebut tergolong dalam jenis planet gas dengan massa kurang dari 4,5 kali massa Jupiter.
Berdasarkan observasi dengan William Herschel Telescope, suhu WASP-33b mencapai 3200 derajat Celsius. Suhu itu lebih panas daripada bintang katai merah yang bersuhu 700 derajat Celsius dan WASP-12b yang suhunya 2300 derajat Celsius.
Salah satu penyebab panasnya suhu planet itu adalah suhu bintang induknya yang juga panas. Astronom mengatakan, suhu bintang induk planet itu adalah 7160 derajat Celsius, lebih tinggi dari suhu matahari yang hanya 5600 derajat Celsius.
Sementara, sebab lain adalah kedekatan jarak orbit WASP-33b dengan bintang induknya. Dengan jarak hanya 7 persen dari jarak Merkurius-Matahari, planet ini seakan menjadi "ketularan" panas bintang induknya.
Studi tentang planet ini dipimpin oleh Alexis Smith dari Universitas Keele di Stafordshire, Inggris. Lewat studi ini, astronom juga mengetahui bahwa waktu revolusi planet ini sangat singkat, hanya 29,5 jam.
Drake Demming dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland yang tidak terlibat penelitian ini mengatakan, "WASP-33b bisa membantu astronom menelaah planet panas yang karakteristisknya masih misteri."
Hal yang bisa dipelajari misalnya adanya planet berorbit dekat dengan bintangnya yang memiliki lapisan atmosfer luar lebih dingin dari lapisan dalamnya. Ini mengejutkan karena planet tersebut "dipanaskan" dari luar.
Deming mengatakan, fakta itu bisa berkaitan dengan adanya senyawa berbasis karbon yang mengubah cara atmosfer merespon radiasi. Senyawa kimia tertentu bisa terbentuk akibat sinar ultraviolet dari bintang.
"Ini pastinya akan menjadi planet yang ingin Anda lihat. Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk bisa mempelajari planet yang mengorbit pada bintang yang super panas," pungkas Deming dalam interview-nya dengan New Scientist.
Read More..

Minggu, 06 Februari 2011

Stasiun Luar Angkasa Lintasi Matahari

Stasiun ruang angkasa internasional terlihat di permukaan Matahari saat terjadi gerhana.
Gerhana Matahari dianggap peristiwa unik yang selalu menarik para pengamat angkasa untuk menyaksikannya. Namun, dalam gerhana Matahari 4 Januari 2011 lalu, ada yang membuat peristiwa itu makin spektakuler karena Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) terlihat melewati muka Matahari dalam peristiwa tersebut. ISS melintas beriringan dengan Bulan yang berada di depan Matahari, menutupi sebagian mukanya hingga terjadi gerhana Matahari parsial.Momen langka tersebut berhasil diabadikan oleh seorang fotografer astronomi bernama Thierry Legault. Untuk mengabadikannya, ia sengaja membuat perhitungan dahulu guna menentukan tempat. Akhirnya, tempat yang ditentukan adalah Muscat, ibu kota Oman, satu-satunya tempat untuk bisa memotret bulan dan ISS saat gerhana.
Legault mengungkapkan, proses pengambilan foto sangat rumit sebab ISS tampak melintasi Matahari hanya dalam waktu kurang dari sedetik. Tapi, akhirnya pada jepretan yang dilakukan saat seperlimaribu detik sejak ISS tampak melewati Matahari, Legault berhasil mengabadikannya.
Legault menggunakan kamera dan teleskop untuk mengabadikan momen langka itu. Dalam hasil jepretannya, tampak sebagian Matahari tertutupi benda berwarna hitam yang merujuk pada bulan. Sementara, dalam gambarnya Stasiun Luar Angkasa Internasional tampak seperti titik kecil di muka Matahari.
Di Muscat, gerhana Matahari sebagian bisa disaksikan selama 2 jam, pukul 11.30-13.30 waktu setempat. Sementara kota yang mengalami gerhana terbesar adalah Skelleftea di Swedia. Sebesar 90 persen muka Matahari tertutupi Bulan. Sayang sekali Indonesia tidak bisa melihat momen gerhana ini. 
Read More..

Temuan Arkeologi di Dieng dari Abad IX

Alam sekitar Anggrung Gondok, Dieng yang damai dan permai.
Tim peneliti dari Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menemukan puluhan pecahan kaca, keramik, dan gacuk di kawasan Candi Dieng, Jawa Tengah. Temuan itu penting untuk mengungkap hubungan perdagangan Mataram Kuno.

Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Inayah Adrisiyanti menuturkan, pecahan keramik China yang ditemukan diperkirakan berasal dari Dinasti Tang sekitar abad ke-9. Adapun pecahan kaca berwarna khas biru dan hijau diperkirakan dari Persia.

"Temuan itu sangat penting, karena menunjukkan ada kehidupan di luar ritus upacara di kawasan Dieng," kata Inayah.

Kawasan Candi Dieng, yang terletak pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dan berada di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, dikenal sebagai kawasan religius. Sesuai namanya, Dieng ("di" berarti gunung atau tempat, dan "hyang" berarti dewa), di kawasan itu terdapat beberapa candi Hindu. Nama candi sesuai dengan tokoh wayang Purwa dalam Mahabarata, seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Semar, dan Candi Gatotkaca.

Tiga titik
Mahirta, dosen dan Ketua tim penelitian di kawasan percandian Dieng, mengatakan, proses ekskavasi temuan dilakukan di tiga titik, yaitu di sekitar tangga masuk Museum Dieng Kailasa, daerah sumur tua, dan bangunan Darmasala bagian barat.

Setelah dilakukan penggalian tanah dengan kedalaman 50-175 sentimeter, di tiga lokasi itu ditemukan pecahan keramik, gacuk (tiruan mata uang yang dipakai dalam upacara keagamaan), dan pecahan kaca.

Melihat karakteristiknya, lanjut Mahirta, pecahan keramik dan gacuk diduga berasal dari Dinasti Tang yang berkuasa di China bagian utara pada abad ke-9. "Keramik sejenis ditemukan pada kapal yang karam di sekitar perairan Belitung," kata Mahirta. Adapun pecahan kaca, dari warna dan karakteristiknya, diduga berasal dari Persia.

Penemuan tersebut, lanjut Mahirta, sangat penting karena memperkuat dugaan Mataram Kuno sudah menjalin perdagangan secara internasional yang melibatkan kawasan Timur Tengah dan China. Barang yang diperdagangkan, bahkan, masuk ke pedalaman, seperti dataran tinggi Dieng.

Arkeolog dari National University of Singapore, John Norman Miksic, mengatakan, selama ini peninggalan prasasti di Indonesia lebih banyak bercerita tentang agama dan pemerintahan. Aktivitas perdagangan sangat jarang disinggung sehingga data mengenai hal itu sangat minim. Padahal, aktivitas perdagangan internasional bisa jadi memiliki pengaruh besar bagi perkembangan kerajaan.

"Temuan ini memberikan data yang paling lengkap tentang luasnya jangkauan perdagangan saat itu," kata kata Miksic.
Read More..

Penentuan Waktu Mesir Kuno

Kepala patung raksasa Ramses II yang dipindahkan dari Kairo ke piramid dekat lokasi aslinya.
Kapan sebenarnya raja-raja Mesir seperti Tutankhamun atau Ramses II berkuasa? Pertanyaan ini kerap menjadi sumber perdebatan di kalangan sejarawan. Namun, perdebatan itu akan berakhir dengan munculnya teknik baru penanggalan radiokarbon.
Teknik baru tersebut bisa menentukan dengan akurat periode waktu dan kronologi sejarah dinasti Mesir melalui uji materi organik.
Akhirnya kini kalangan arkeolog memiliki catatan yang akurat mengenai periode waktu dan kronologi sejarah dinasti Mesir kuno, pertengahan, dan kerajaan baru berkat teknik penanggalan radiokarbon (radiocarbon dating).
Teknik ilmiah dengan penanggalan radiokarbon terhadap obyek-obyek Mesir kuno sebenarnya bukan hal baru, tetapi kali ini tim peneliti menggunakan teknik statistik yang dijamin akurat untuk menguji periode sejarah dinasti Mesir.
Penanggalan radiokarbon yang juga dikenal dengan penanggalan carbon-14 adalah suatu teknik yang bisa menentukan usia materi organik secara akurat. Untuk memperoleh penanggalan carbon-14 yang akurat, tim peneliti meneliti 211 sampel jenis tanaman, biji-bijian, papirus, tangkai atau batang, dan buah dari tanaman dan tumbuhan yang ditemukan di dalam kompleks makam para raja atau firaun, termasuk makam Raja Tutankhamun.
Sampel tanaman dan tumbuhan seperti biji-bijian yang sebagian telah berusia lebih dari 4.500 tahun yang lalu itu ”dipinjam” dari koleksi museum-museum di Amerika Serikat dan Eropa.
Salah seorang peneliti dari Oxford University, Thomas Higham, mengatakan, banyak materi organik yang ditemukan di makam-makam kuno Mesir dan lokasi arkeologi lain.
Dalam jurnal Science, Jumat (18/6), tim peneliti memaparkan penghitungan kandungan karbon radioaktif pada artefak-artefak kuno melalui tanaman dan tumbuhan yang pernah ada di sekitarnya. Analisisnya, tanaman dan tumbuhan yang menyerap carbon-14 selama masa pertumbuhannya masih menyimpan isotop radio aktif meski telah membusuk dan mati. Sisa-sisa carbon-14 yang menempel pada artefak-artefak kuno inilah yang kemudian diukur untuk menentukan usianya.
Untuk menjamin sampel benar-benar terbuat dari materi organik yang tumbuh di saat yang sama saat artefak dibuat, tim peneliti tidak menguji artefak berbahan kayu atau tulang, tapi hanya menguji bahan pangan, tekstil, dan keranjang.
Hasil penelitian selama tiga tahun yang dipimpin Christopher Ramsey dari Oxford University, Inggris, bersama para ahli dari Cranfield University, National Center for Scientific Research (CNRS) di Perancis, ahli dari Austria, dan Israel itu antara lain berupa data terbaru kekuasaan dinasti Kerajaan Baru Mesir yang ternyata dimulai 1570 SM-1544 SM (sebelum Masehi).
Ini berbeda dari pendapat kalangan sejarawan sebelumnya yang memperkirakan kerajaan baru Mesir mulai berkuasa sekitar 1550 SM. Raja Kerajaan Baru, Ramses II yang dikenal sebagai raja Mesir yang terhebat, diketahui berkuasa pada 1297-1273 SM. Adapun Raja Tutankhamun berkuasa pada tahun 1353 SM-1331 SM.
Ada pula temuan baru yang menyebutkan, salah satu firaun yang terkenal pada era Dinasti Ketiga Kerajaan Lama Mesir, yakni Djoser, berkuasa pada 2691 SM-2625 SM atau sekitar 50-100 tahun lebih awal dibandingkan prakiraan sejarawan sebelumnya. Periode kekuasaan Djoser bisa diketahui setelah meneliti biji-bijian dan tanaman yang ditemukan di dalam sebuah bilik di bawah tangga piramida Saqqara.
Dengan adanya data-data terbaru itu, mau tidak mau kalangan sejarawan harus mengubah catatan mereka tentang sejarah dinasti Mesir yang kala itu mendominasi Mediterania. Selain itu, perdebatan di kalangan ahli Mesir bisa berakhir dengan kemunculan data-data yang lebih akurat ini.
Menghentikan perdebatan
Temuan baru dengan carbon-14 ini diyakini akan menghentikan perdebatan panjang di kalangan ahli Mesir. Salah satu perdebatannya adalah tentang periode waktu dimulainya era Kerajaan Baru yang ”melahirkan” raja-raja terkenal, seperti Amenhotep, Tutankhamun, dan Ramses. Di satu sisi, kalangan sejarawan meyakini era dinasti itu dimulai 1539 SM, tetapi di sisi lain ada pula yang berpendapat dimulai 1550 SM.
”Selama ini penanggalan radiokarbon tidak dipercaya karena kerap terjadi kesalahan fatal. Namun, sekarang teknik itu mampu meniadakan perbedaan ide dalam rekonstruksi sejarah,” kata Andrew Shortland dari Cranfield University, Inggris.
Teknik penanggalan radiokarbon dinilai lebih akurat dibandingkan analisis-analisis tentang sejarah Mesir selama ini yang disimpulkan hanya berdasarkan dokumen sejarah atau temuan arkeologi. Seperti dokumen sejarah Mesir, misalnya, disusun berdasarkan goresan catatan harian sejarawan Manetho pada abad ke-3 SM dan prasasti-prasasti yang ditemukan di Saqqara dan Karnak. Catatan-catatan ini kemudian menghasilkan ”kronologi mengambang” karena kurang konsisten dengan periode waktu yang tidak pasti.
Selain dokumen dan temuan arkeolog, periode waktu sejarah Mesir kerap hanya dirujuk dari peristiwa-peristiwa astronomi. Namun, dengan cara ini pun sulit diperoleh data yang akurat. Bandingkan saja perbandingan astronomi dengan dokumen dan temuan arkeolog pada piramida pertama di Saqqara yang digunakan sebagai makam Raja Djoser. Kalangan sejarawan berpendapat, Djoser berkuasa pada 2667 SM-2592 SM. Namun, apabila menggunakan perhitungan astronomi, Djoser baru berkuasa 75 tahun kemudian. Perbedaan pendapat seperti inilah yang diharapkan akan bisa diminimalisasi dengan penggunaan teknik carbon-14.
Read More..

Penggalian Arkeologi Teliti Situs Stonehenge di Inggris

Stonehenge
Untuk mengungkap misteri pembangunan Stonehenge atau tugu-tugu batu raksasa di Inggris, para arkeolog akhirnya mulai melakukan penggalian di sekitarnya. Dari material yang ditemukan dalam penggalian tersebut, mereka berharap dapat mengungkap kapan batu-batu besar yang menyusun monumen paling misterius ini mulai disusun.

Stonehenge merupakan salah satu peninggalan dari zaman prasejarah yang sangat terkenal di Inggris. Namun, siapa yang membangun, untuk apa, dan kapan monumen batu tersebut dibangun masih menyimpan teka-teki hingga saat ini. Situs yang sudah dilindungi sebagai salah satu warisan dunia itu menjadi salah satu kunjungan wisata favorit di Salisbury.Strukturnya secara umum berbentuk pola melingkar yang terdiri atas batu-batuan tegak maupun bertumpuk. Lingkaran bagian luar tersiusun dari batu-batu jenis sarsen raksasa yang berditi tegak. Sementara lingkaran batu di pusatnya tersusun dari tumpukan batu jenis bluestone (batu biru). Bentuknya yang melingkar diyakini berhubungan dengan astronomi, misalnya untuk mempelajari posisi matahari dan bulan.

Para ilmuwan memperkirakan batu biru (bluestones), yang merupakan bagian tertuanya, dibangun sekitar 2600 Sebelum Masehi. Batu ini diperkirakan dibawa dari tugu batu lainnya di Bukit Preseli, Wales Selatan yang dipisahkan sungai dan berjarak sekitar 382 kilometer dari situs tersebut.

"Penggalian akan melacak datangnya batu biru setelah dibawa sejauh 153 mil perjalanan dari Preseli ke Salisbury Plain," ujar Geoffrey Wainwright, arkeolog yang akan melakukan penggalian bersama Timothy Darvill dari Universitas Bournemouth. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha mengungkap bagaimana batu-batu  seberat 5 ton dibawa ke bukit tersebut.

Para arkeolog sebelumnya berpendapat bahwa batu-batu tersebut mungkin digelindingkan dari bukit ke pinggir pantai. Kemudian diangkut dengan perahu besar mengarungi Sungai Avon.
Read More..

Stonehenge Menyimpan Monumen Lain?

Stonehenge

Para ilmuwan yang meneliti wilayah sekitar Stonehenge menemukan struktur melingkar yang terletak beberapa ratus meter dari monumen yang terkenal itu. Sejauh ini masih menjadi pertanyaan, struktur apakah yang dijumpai tersebut. Tim survei yang menggalinya menduga struktur itu adalah pondasi monumen batang-batang kayu yang disusun melingkar, yang bisa jadi merupakan versi kayu stonehenge.

Namun Tim Darvill, seorang profesor arkeologi dari Universitas Bournemouth di Inggris selatan, berpendapat, yang ditemukan adalah makam prasejarah. Darvill mengatakan, lingkaran itu perluasan dari penemuan-penemuan lain di sekitar Stonehenge dan menunjukkan bahwa banyak hal yang harus dipelajari dan betapa luasnya situs itu sebenarnya. "Pada saat itu, Stonehenge adalah pusat upacara terbesar di Eropa," katanya.

Stonehenge yang terlihat saat ini diperkirakan selesai dibangun sekitar 3.500 tahun yang lalu, meski pekerjaan paling awal sudah dimulai lebih dari 5000 tahun yang lalu. Walau banyak orang telah melakukan penggalian secara terus menerus sejak abad ke-18, saat ini penggalian diawasi dengan ketat. Jadi para arkeolog melakukan pemindaian lahan dengan menggunakan magnet dan sensor radar guna melihat ada apa di sekitar Stonehenge.

Adapun struktur baru yang ditemukan berupa kelompok sumur yang dikelilingi lubang-lubang lebih kecil. Struktur cincin ini berjarak sekitar 900 meter dari Stonehenge dan berada pada jarak padang bila dilihat dari Stonehenge.

Arkeolog Universitas Birmingham Henry Chapman mengatakan bahwa lubang-lubang kecil yang ada adalah bekas penyangga tiang-tiang kayu utama yang berdiri tegak setingga 3 meter lebih.

Timberhenge - nama yang kemudian diberikan untuk struktur itu - mungkin dibangun pada waktu yang sama dengan Stonehenge, dan diduga memiliki fungsi religius dan upacara yang berkaitan. Tetapi apa jenis upacaranya masih belum diketahui. Yang jelas, temuan ini menambah luas komplek kuburan dan struktur Neolithic di wilayah tersebut.

Wilayah misterius

Struktur yang paling mirip dengan timber henge adalah Woodhenge, monumen yang terdiri dari enam rangkaian tiang kayu dan dikelilingi gundukan tanah. Penggalian di lokasi itu tahun 1970 memunculkan jasad anak dengan bagian kepala di tengah-tengah monumen, yang memunculkan dugaan adanya pengorbanan manusia di sana.

Sepelemparan batu dari timberhenge, ada formasi lain yang disebut Cursus, berupa galian sepanjang 3 kilometer yang belum diketahui fungsinya. Di dekatnya juga ada gundukan-gundukan tanah yang disebut Northern Kite Enclosure, di mana petani-petani jaman perunggu sepertinya menghindari bercocok tanam di sana. Sekali lagi, tak seorang pun tahu mengapa.

Wilayah sekitar Stonehenge juga penuh dengan kuburan-kuburan prasejarah yang sebagian ada sebelum bangunan itu dibuat. Tahun lalu para peneliti menemukan monumen lingkaran kecil dari batu di tepi Sungai Avon. Mereka menduga lingkaran batu yang disebut "Bluehenge" karena dibangun dengan batu-batu biru itu merupakan titik awal prosesi upacara yang kemudian berakhir di Stonehenge. Read More..

Jangkrik Berkaki Lebar Tak Berevolusi

Fosil jangkrik langka berkaki lebar yang ditemukan di Brazil ini berusia 100 juta tahun.

Para peneliti berhasil menemukan fosil serangga purba yang berusia 100 juta tahun di wilayah utara Brazil. Fosil tersebut merupakan nenek moyang dari Schizodactylidae, serangga serupa jangkrik berkaki lebar yang kini masih ditemukan di wilayah Asia Selatan, Indochina bagian utara, dan Afrika.

Penemuan fosil ini dipublikasikan di jurnal online ZooKeys yang bisa bebas diakses. Meski karakteristik fosil berbeda dengan Schizodactylidae yang hidup saat ini, namun karakteristik umumnya hampir sama. Kesamaan tersebut membuktikan bahwa Schizodactylidae mengalami evolusi statis selama jutaan tahun.

Evolusi statis adalah peristiwa di mana kelompok organisme tertentu hanya mengalami sedikit perubahan genetik dalam rentang waktu geologi yang cukup lama. Sam Heads, ahli serangga dari Universitas Illinois yang terlibat riset ini mengatakan, Schizodactylidae mengalami evolusi statis sejak periode awal zaman Cretaceous, 100 juta tahun lalu.

Studi lain juga menunjukkan bahwa lingkungan tempat moyang serangga serupa jangkrik ini tinggal adalah kering atau kering musiman. Heads mengatakan, "Hal ini menunjukkan, pemilihan habitat dari Schizodactylus, genus dari moyang hewan serupa jangkrik, ini tidak berubah selama 100 juta tahun juga.

Mendeskripsikan Schizodactylidae, Heads mengatakan, "Ini adalah jangkrik berkaki lebar dan kelompok serangga besar yang memiliki kekerabatan dengan jangkrik yang sehari-hari kita kenal." Heads mengatakan, Schizodactylidae mendapatkan namanya dari struktur kaki serupa dayung yang membantunya bergerak di pasir dan mencari mangsa.
Read More..

Kamis, 03 Februari 2011

Dinosaurus Bertahan 700.000 Tahun

Tim peneliti Universitas Alberta, Kanada, berhasil memperkirakan umur fosil dinosaurus yang terdapat di New Mexico. Dikatakan, fosil berupa tulang paha jenis Hadrosaur tersebut berasal dari era 64,8 juta tahun yang lalu. Hasil penelitian ini mengejutkan sebab selama ini ilmuwan percaya bahwa dinosaurus punah antara 65,5-66 juta tahun lalu. Jika temuan ini benar, hal tersebut membuktikan bahwa Hadrosaur sebenarnya masih bertahan hingga sekitar 700.000 tahun setelah kepunahan massal.
Larry Heaman dari Departemen Ilmu Atmosfer dan Kebumian memperkirakan umur dinosaurus itu dengan metode U-Pb (uranium -timah). Metode itu tak cuma mampu memperkirakan umur dinosaurus, tetapi juga makanannya. Metode tetrsebut memiliki kelebihan dibandingkan metode kronologi relatif yang kini dipakai. Metode terakhir adalah memperkirakan umur berdasarkan lapisan sedimen tempat fosil ditemukan.
Dengan kronologi relatif, hasil perkiraan bisa tidak akurat. Proses geologi dan lingkungan yang terjadi selama jutaan tahun bisa memicu erosi, menyebabkan fosil bermigrasi dari lapisan sedimen satu ke yang lain.
Selama ini, dipercaya bahwa kepunahan dinosaurus terjadi akibat terhalangnya cahaya matahari oleh serpihan debu hantaman asteroid. Akibatnya, terjadi perubahan iklim yang ekstrim dan kepunahan vegetasi, menyapu bersih semua populasi.
Dengan hasil temuan fosil Hadrosaur ini, Heaman berpendapat perubahan iklim tidak menyapu bersih semua vegetasi. Masih terdapat vegetasi yang bertahan sehingga memungkinkan Hadrosaur untuk hidup.
Heaman juga mengatakan perlunya mengeksplorasi telur-telur yang bertahan dalam lingkungan ekstrim tersebut. Ia mengungkapkan, jika hasil penelitian ini benar, maka teori tentang waktu kepunahan dinosaurus perlu direvisi. Hasil penelitian ini dpublikasikan di jurnal Geology terbaru yang terbit tanggal 26 Januari 2011. Read More..

Ada Dua Ruangan Rahasia di Piramida Giza

Piramida Giza
Piramida Giza diduga menyimpan dua ruangan tersembunyi yang belum ditemukan. Kedua ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan perabotan pemakaman.
Dugaan itu disampaikan Jean-Pierre Houdin, peneliti piramid dari Perancis, setelah mempelajari data seorang ahli sejarah Mesir dari Amerika Serikat, Bob Brier, yang digabungkan dengan simulasi tiga dimensi (3D) yang dibuatnya. Penelusurannya tersebut memberi petunjuk mengenai kemungkinan adanya dua ruangan rahasia di jantung bangunan besar itu.
“Saya yakin ada dua ruangan depan dalam piramida besar itu dan saya ingin menemukannya,” katanya seperti dikutip situs Discovery News. Piramida Giza yang juga disebut Khufu atau Cheops sesuai penguasa yang membangunnya saatitu merupakan piramida tertua dan terbesar.
Kedua ruangan di dalam piramida tersebut diperkirakan sebagai tempat penyimpanan perabot yang digunakan pada kehidupan di alam baka oleh Firaun Khufu yang juga dikenal sebagai Cheops oleh orang Yunani. Menurut Houdin, petunjuk keberadaan ruangan depan itu didapatnya berdasarkan adanya ruangan serupa di Piramida Snefru, ayah dari Khufu. Oleh karena itu, kemungkinan besar rancangan yang sama juga dipakai di Piramida Giza.
Selain itu, balok-balok yang berada di tembok selatan ruangan sang raja di Piramida Giza mengindikasikan sebuah jalan yang terabaikan yang diduga menuju ke ruangan rahasia dan digunakan para peserta upacara pemakaman sebagai jalan keluar dari piramida. Read More..

Makam Caligula Ditemukan

Patung Caligula
Caligula dikenal sebagai kaisar Romawi yang kejam. Bagi anda yang masih ingat, sosoknya pernah dibuat film (hanya untuk dewasa) pada tahun 1979, dibintangi oleh Helen Mirren, Peter O’Toole and Malcolm McDowell.
Dalam sejarah, kekejaman dan kegilaannya ditunjukkan dengan meniduri adik kandungnya sendiri, membunuh beberapa orang yang dicurigai dan mengubah istana sebagai bordil. Ia sendiri dibunuh dengan brutal oleh budaknya pada umur 28.
Minggu lalu, kepolisian Italia mengklaim telah menemukan makam Caligula. Makam tersebut dipercaya terletak di Danau Nemi, wilayah selatan Roma tempat kekaisaran Romawi pada masa Caligula memiliki villa.
Klaim tersebut muncul menyusul penangkapan seorang perompak makam yang akan mencuri patung dari makam. Karena patung terbuat dari marmer Yunani, bermahkota dan jubah, maka polisi memercayai itu berasal dari makam Caligula.
Patung Caligula yang hendak dicuri tampak mengenakan caligae, sepatu boot kecil militer Roma. Nama Caligula, yang sebenarnya adalah Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus, diambil dari nama sepatu itu.
Meski polisi yakin itu adalah makam Caligula, namun profesor sejarah Cambridge University, Mary Beard meragukannya. Ia menulis di The Times of London bahwa tidak mungkin Caligula memiliki makam di Danau Nemi, meski benar bahwa kekaisaran Roma memiliki villa di sana.
Saat ini, arkeolog tengah melakukan ekskavasi di wilayah itu. Banyak arkeolog yang berminat menemukan sisa-sisa peninggalan Caligula sebab sebagian besar peninggalannya telah dihancurkan. Read More..

Ditemukan Patung Kakek Raja Tut

Patung Amenhotep III
Enam potongan dari patung eyang Raja Tut ditemukan di sebuah kuil di tepi barat Sungai Nil di Nuxor, Mesir. Menteri Kebudayaan Mesir Farouk Hosny mengumumkan temuan tersebut pekan lalu.
Tiga potongan yang ditemukan adalah fragmen yang berasal dari patung sang kakek, Raja Amenhotep III. Potongan tersebut adalah fragmen dada kanan, nemes (penghias kepala berpola garis-garis), dan kaki. Sementara tiga potongan lain berasal dari patung sang nenek Ratu Tiye. Potongan itu merupakan rambut palsu, fragmen tangan kiri, jari dan kaki. Selain itu, tim juga menemukan bagian dasar dari kedua patung.
Keenam potongan saat ini masih disimpan di situs Medinet Habu di Nuxor. Tapi, semua potongan akan segera dipindah ke Egyptian Museum di Kairo untuk restorasi dan penempatan pada patung.
Raja Amenhotep III memerintah selama 39 tahun (1390-1352 SM), ketika Mesir berada dalam puncak perkembangan kemakmuran dan budaya.
Kedua patung itu pertama kali ditemukan pada tahun 1889 di Medinet Habu. Saat itu, tim dari Italia melakukan restorasi dan mengisi bagian yang hilang dengan batu-batu modern. Read More..

Fosil Manusia Tertua Ditemukan di Israel

ILUSTRASI: Hasil penemuan dan analisis umur fosil gigi ini kemudian dipublikasikan di American Journal of Physical Anthropology. Saat ini, penggalian di Gua Qesem terus dilakukan.
Tim arkeolog dari Universitas Tel Aviv menemukan fosil manusia tertua di dunia yang diperkirakan berusia 400.000 tahun. Fosil terdiri dari delapan buah gigi tersebut sebenarnya sudah ditemukan pada 2006, namun analisa untuk mengetahui umurnya baru dilakukan tahun ini. Fosil gigi tersebut ditemukan di Gua Qesem, Rosh Ha’Ayin, Israel.
“Satu gigi ditemukan di lapisan gua yang kira-kira sudah berusia 400.000 tahun, sementara gigi lain
Tim arkeolog dari Universitas Tel Aviv menemukan fosil manusia tertua di dunia yang diperkirakan berusia 400.000 tahun. Fosil terdiri dari delapan buah gigi tersebut sebenarnya sudah ditemukan pada 2006, namun analisa untuk mengetahui umurnya baru dilakukan tahun ini. Fosil gigi tersebut ditemukan di Gua Qesem, Rosh Ha’Ayin, Israel.
“Satu gigi ditemukan di lapisan gua yang kira-kira sudah berusia 400.000 tahun, sementara gigi lain ditemukan di bagian yang usianya kurang lebih 200.000 tahun,” papar Avi Gopher, pimpinan penelitian ini.
Menurut Gopher, fosil gigi ini merupakan fosil Homo Sapiens yang pernah ada. Usia 400.000 tahun yang dimiliki fosil gigi ini mengalahkan fosil dari Afrika berusia 200.000 tahun, yaitu fosil yang selama ini dipercaya fosil tertua. Dilihat dari umurnya, diperkirakan fosil gigi tersebut berasal dari zaman Pleistocene Tengah.
Penemuan ini, kata Gopher, bisa membuka pertanyaan baru tentang asal-usul umat manusia. Dengan hasil penelitian ini, manusia bisa jadi bukan berkembang dari Afrika seperti yang selama ini dikenal sebagai teori “Out of Africa”, tetapi berkembang dari Timur Tengah, tempat fosil gigi ini ditemukan.
Hasil penemuan dan analisis umur fosil gigi ini kemudian dipublikasikan di American Journal of Physical Anthropology. Saat ini, penggalian di Gua Qesem terus dilakukan.
“Ini berfungsi untuk menguak temuan tambahan lain yang bisa mengkonfirmasi temuan saat ini dan memahami evolusi manusia,” kata Gopher.
Bersama fosil tulang gigi ini, lanjut dia, ditemukan pula serpihan peralatan batu yang digunakan untuk memotong daging dan peralatan lainnya. Temuannya menjadi bukti hubungan sosial manusia saat itu yang sudah mengenal perburuan, kebiasaan memotong dan membagi daging hewan serta pembuatan api. Read More..

Fosil Tertua Otak Manusia Berusia 2000 Tahun

Onggokan otak yang menyusut terlihat di rongga tengkorak berusia 2000 tahun di York, Inggris.
Otak manusia tersusun dari jaringan lunak yang sangat mudah terurai mikroba begitu terkubur di tanah. Namun, siapa menyangka masih ada yang bertahan selama 2000 tahun.
Para arkeolog menemukannya dalam rongga tengkorak yang ditemukan dari situs purbakala di sekitar Universitas York, Inggris. Tengkorak berisi fosil otak itu ditemukan di bekas area pertanian yang pernah digarap sejak 2000 tahun lalu.
Mereka mengklaim otak berusia 2000 tahun itu sebagai fosil otak manusia tertua di Inggris. Pengukuran karbon menunjukkan orang tersebut kemungkinan hidup 300 sebelum Masehi.
Ukurannya sudah tak sebesar otak aslinya. Namun, setelah dilakukan pemindaian sinar-X terlihat onggokan berwarna kuning yang bentuknya masih seperti otak hanya menyusut. Otak mungkin mengalami fosilisasi dan terhindar dari serangan mikroba pengurai.
“Mengejutkan karena hasil pemindaian menunjukkna struktur yang bentuknya seperti otak aslinya” ujar Philip Duffey, konsultan neurologi yang melakukan penelitian itu. Meski demikain jarngan otaknya sendiri mungkin telah habis terutama jaringan lemaknya yang mudah terurai mikroba.
Ia yakin ada perlakukan khusus sehingga otak bertahan. Mungkin karena tambahan material pengawet atau sejenisnya. Saat ditemukan, tengkorak terbenam dalam lumpur yang mungkin bagian dari ritual pengorbanan. Read More..

Hutan Purba Ditemukan di Kutub Utara

Hutan purba, lengkap dengan kayu, dedaunan, dan biji-bijian, ditemukan di Kutub Utara di daerah Kanada. Hutan yang diperkirakan berumur jutaan tahun itu dikelilingi gletser, tak ada pohon, kecuali beberapa pohon kerdil seukuran bonsai.
Tim peneliti menemukan hutan itu setelah memperoleh laporan dari jagawana dari Quittinirpaaq National Park di Ellesmere Island, salah satu daratan yang posisinya paling utara. Polisi hutan itu menemukan serpihan kayu yang dianggapnya berasal dari pohon-pohon besar serta beberapa gelondongan kayu sepanjang beberapa kaki.
“Kayu-kayu itu tersebar. Sulit untuk tidak menginjaknya,” kata Joel Barker, ilmuwan lingkungan dari Ohio State University yang juga pemimpin studi ini. Kalau digali lebih dalam, menurutnya, akan lebih banyak kayu, daun, dan biji ditemukan. Hutan tersebut bisa awet karena terkubur oleh longsoran dan terisolasi dari udara dan air.
Dengan mempelajari kayu, daun, dan biji, tim peneliti berhasil menemukan beberapa spesies pohon, di antaranya adalah pinus, cemara, dan birch. Menurut Barker, jumlah spesies yang tidak banyak itu menunjukkan bahwa hutan tersebut sedang di ambang kepunahan. “Hutan ini kira-kira berasal dari sepuluh juta hingga dua juta tahun yang lalu,” ujar Barker.
Para peneliti juga mengukur lingkar kayu dan mendapati bahwa pohon di hutan itu setidaknya berumur 75 tahun pada saat terkubur. Cincin pohon yang kecil menunjukkan, pertumbuhan pohon sangat lambat.
Penemuan ini bisa dipakai untuk mengetahui kondisi dunia pada saat iklim Bumi berubah drastis. “Penemuan ini luar biasa. Kayu berumur jutaan tahun dengan kondisi yang masih sangat bagus akan membuka berbagai kemungkinan,” kata Robert Blanchette, ahli patologi University of Minnesota.
Tim berharap menemukan kecepatan perubahan iklim dan efeknya terhadap tumbuhan. Ilmuwan juga ingin mengetahui cara pohon bereaksi terhadap pendinginan sekitar 5 juta tahun yang lalu, saat efek rumah kaca berubah jadi efek rumah es. Pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini merupakan kebalikan dari kejadian itu. Read More..

Fosil Dinosaurus Bertanduk dari Korea

Ilustrasi sosok dinosaurus bertanduk yang pernah hidup di Korea Selatan, Koreaceratops hwaseongensis.
Dinosaurus yang diduga punya hubungan dengan triceratops memiliki kepala tertutup dan struktur ekor kipas pernah hidup di daerah yang kini dikenal sebagai Korea Selatan, sekitar 103 juta tahun lalu. Ini adalah penemuan pertama dinosaurus bertanduk di semenanjung Korea.
Penemuan yang terbit dalam jurnal Naturwissenschaften: The Science of Nature pada 18 November ini meliputi tulang punggung, tulang pinggul, sebagian lengan belakang, dan ekor yang hampir utuh. Dinosaurus ini diberi nama Koreaceratops hwaseongensis dan diduga hidup pada periode awal Cretaceous.
Penemuan ini, menurut Michael J Ryan, mengisi kekosongan 20 juta tahun antara temuan fosil di Asia dan kemunculan pertama di Amerika Utara. Ryan adalah seorang kurator dan kepala Clevelend Museum of Natural History bagian paleontologi vertebrata yang terlibat dalam penulisan jurnal.
“Ini penemuan langka,” kata Ryan. Fosil dinosaurus tidak biasanya ditemukan di kawasan ini, kecuali bukti adanya telur dinosaurus dan jejak kaki.
Dinosaurus Korea ini diperkirakan memiliki panjang 150 hingga 180 sentimeter dengan bobot 30 hingga 50 kilogram. Dengan ukuran tersebut, dinosaurus ini terbilang kecil dibandingkan dengan kerabat triceratops yang ditemukan di Amerika Utara. Bentuk seperti paruh burung beo di depan rahangnya membuat peneliti menduga bahwa hewan ini herbivora.
Ryan dan koleganya menduga, dinosaurus ini bipedal dan dapat bergerak dengan cepat. “Ekornya unik,” ujar Ryan. Untuk seekor dinosaurus, ekornya pendek. Beberapa duri panjang yang disebut neural arches (lengkungan saraf) menyembul dari ekor dengan embel-embel.
Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa dinosaurus memiliki ekor seperti ini. “Salah satunya murni untuk pamer. Jadi, kipas di ujung ekor bisa saja berwarna dan jika dibalikkan dapat menjadi alat memberi sinyal. Bagian itu bisa dikembangkan seperti bendera sehingga bisa memberi sinyal kepada hewan lain atau untuk menarik lawan jenis,” papar Ryan.
Bentuk bagian tubuh ini juga membantu pertukaran hawa panas atau juga membantunya berenang. Para peneliti menduga, dinosaurus ini menghabiskan sebagian waktunya untuk berburu makanan di air. Read More..

Fosil Bangau Raksasa Ditemukan di Flores

Fosil bangau putih raksasa
Menurut Zoological Journal of the Linnean Society, fosil bangau putih raksasa ditemukan di Pulau Flores. Peneliti mengatakan, penemuan fosil bangau ini penting untuk mempelajari evolusi manusia purba yang juga ditemukan di pulau ini, Homo floresiensis.
Bangau putih yang diberi nama Leptoptilos robustus itu memiliki tinggi 1,8 meter dan berat hingga 16 kilogram, membuatnya paling tinggi dan paling berat di antara spesies bangau lainnya.
Paleontolog Hanneke Meijer dari National Museum of Natural History di Leiden, Belanda, menemukan fosil ini bersama koleganya, Dr Rokus Due dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jakarta. Mereka menemukan empat tulang kaki di Gua Liang Bua, Pulau Flores. Tulang-tulang ini diyakini merupakan bagian dari seekor bangau yang hidup antara 20.000 dan 50.000 tahun lalu.
“Saya menyadari tulang-tulang bangau raksasa ini pertama kali di Jakarta, saat mereka disandingkan dengan tulang-tulang yang lebih kecil lainnya. Menemukan burung besar adalah hal biasa di pulau itu. Tapi saya tidak menyangka menemukan bangau putih raksasa,” kata Dr Meijer.
Tidak ada tulang sayap yang ditemukan. Para peneliti menyangka bangau ini jarang atau bahkan tidak pernah terbang. Ukuran dan berat tulang kaki serta ketebalan dinding tulang menunjukkan bangau ini sangat berat sehingga menghabiskan sebagian besar hidupnya di darat.Spesies Pulau Flores
Penemuan spesies raksasa bukan hal baru di Pulau Flores. Para peneliti telah menemukan makhluk-makhluk kerdil, seperti gajah kerdil Stedgodon florensis insularis dan komodo Varanus komodoensis. Di pulau ini pula para ilmuwan menemukan fosil manusia kerdil, Homo floresiensis, yang hanya memiliki tinggi satu meter.
Fenomena perubahan ukuran ini dikenal sebagai faktor pulau dan dipicu beberapa predator yang ada di pulau tersebut. Akibatnya, hewan-hewan yang menjadi mangsa makin kecil, sedangkan hewan predator semakin besar. “Mamalia yang besar seperti gajah dan primata menunjukkan penurunan ukuran. Sementara itu, mamalia kecil seperti hewan pengerat dan burung ukurannya membesar,” urai Dr Meijer.
Adapun Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004. Sampai saat ini, para peneliti masih memperdebatkan status Homo floresiensis. Ilmuwan masih mempertanyakan apakah manusia kerdil yang hidup 12.000 hingga 8.000 tahun yang lalu itu termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.

“Status Homo floresiensis menjadi bahan perdebatan semenjak ditemukan. Menurut saya, bangau putih raksasa ini penting untuk memahamai evolusi Homo floresiensis. Ada spekulasi kalau bangau putih raksasa ini memakan Homo floresiensis. Meski tidak ada bukti, kemungkinannya tidak bisa dikesampingkan,” cetus Dr Meijer.
Hingga kini belum jelas mengapa bangau raksasa, gajah kate, dan manusia purba itu punah. “Tapi, kami memiliki beberapa petunjuk. Semua tulang bangau putih raksasa seperti juga gajah kate dan manusia kerdil ditemukan di bawah lapisan tebal debu vulkanik. Kemungkinan ada erupsi gunung api. Kedua, bangau putih raksasa dan makhluk sezamannya punah sebelum manusia modern muncul di gua itu,” pungkas Dr Meijer. Read More..

Gurun di Mesir Pernah Jadi Danau

Sungai Nil
Para geolog memperkirakan bahwa salah satu wilayah gurun kering di Mesir pernah menjadi danau pada masa lalu. Analisa tentang hal tersebut dipublikasikan dalam jurnal Geology yang terbit Desember 2010 ini.
Wilayah danau yang diperkirakan pernah ada memiliki luas yang melebihi Danau Erie. Danau tersebut merentang hingga wilayah barat Sungai Nil, bahkan diperkirakan mencapai perbatasan Sudan.
Danau purba itu diperkirakan pertama kali terbentuk 250.000 tahun yang lalu. Setelah periode pembentukannya, danau mengalami perluasan dan penyusutan hingga akhirnya hilang sekitar 80.000 tahun yang lalu.
Ted Maxwell, geolog dari Smithsonian National Air and Space Museum di Washington, mengatakan, dengan mengetahui letak danau dan periode pembentukannya, kita dapat memperkirakan kondisi lingkungan saat manusia mulai bermigrasi ke luar Afrika.
“Anda akan menyadari bahwa tempat ini dipenuhi dengan danau yang begitu besar saat manusia-manusia ingin keluar dari Afrika,” kata Maxwell. Dikatakan bahwa manusia bermigrasi ke luar Afrika sejak 200.000 tahun yang lalu.
Untuk menganalisis hal tersebut, para geolog menggunakan citra satelit yang diambil dalam periode 80-an hingga 90-an. Mereka mengatakan, butuh waktu lama untuk mengidentifikasi dan membuat analisis.
“Sangat mengejutkan ketika menyadari, ‘hey, mungkin saja itu adalah wilayah danau’,” cetus Maxwell.
Meski berbagai bukti topografi mendukung, bukti-bukti tersebut belum cukup untuk menentukan ada tidaknya danau tersebut dan bagaimana pembentukannya. Bukti yang mendukung di antaranya adalah adanya wilayah dataran rendah Tushka. Wilayah tersebut dikatakan cukup rendah sehigga air Sungai Nil bisa membanjirinya dan memacu terbentuknya danau.
Bukti lain adalah adanya fosil ikan yang ditemukan di wilayah gurun dan memiliki karakteristik sama dengan ikan di Sungai Nil. Adanya ikan tersebut menunjukkan adanya wilayah perairan yang berkaitan dengan Sungai Nil.
Sementara itu, salah satu bukti yang tidak didapatkan adalah garis pantai. Maxwell mengatakan, garis pantai danau tersebut mungkin telah hilang oleh pasir yang menutupi wilayah danau sekarang.
“Masalah lain adalah tidak adanya bukti sedimentasi di wilayah ini,” kata Maxwell ketika diwawancara Discovery. Tak adanya sedimentasi membuat keberadaan danau superbesar tersebut sulit untuk dibuktikan.
Meski demikian, Christopher Hill dari Boise State University, ilmuwan lain yang tak terlibat dalam studi ini, justru yakin bahwa wilayah gurun tersebut pernah menjadi danau.
Masalah sumber air, menurut Hill, Nil bukan satu-satunya kemungkinan. “Tentang sumber air, kemungkinan lainnya adalah drainase dari dataran tinggi ke barat, sumber air tanah dari selatan, hujan lokal dan sumber potensial lainnya,” katanya.
Hill mengatakan, “Sisa-sisa sedimen dari artefak arkeologis menunjukkan bahwa danau tersebut tercipta dari hujan lokal atau air tanah. Danau kemudian meluas hingga wilayahnya berhubungan dengan Sungai Nil. Read More..

Koka Dikonsumsi Sejak 8.000 Tahun Lalu

Daun koka
Masyarakat Peru ternyata sudah mengonsumsi daun koka sejak 8.000 tahun yang lalu. Para arkeolog menemukan buktinya lewat penelitian di sebuah rumah di barat laut Peru.
Di bagian bawah lantai rumah itu terdapat batuan yang kaya akan kalsium dan senyawa aktif daun koka. Batuan tersebut, menurut prediksi arkeolog, dibakar dan digunakan untuk mengeluarkan lebih banyak senyawa aktif dalam daun itu.
Penemuan ini membuktikan bahwa daun koka telah digunakan jauh sebelum apa yang sudah diprediksikan. Sebelum adanya penelitian ini, para arkeolog menganggap bahwa daun koka digunakan sejak 3.000 tahun yang lalu.
Daun koka bisa memproduksi berbagai macam senyawa alkaloid. Salah satu jenis senyawa yang diproduksi dari daun ini adalah kokain, diekstrak dan dimurnikan untuk berbagai tujuan.
Alkaloid lain dari daun ini bisa berfungsi memberikan efek stimulasi, mengurangi rasa lapar, membantu pencernaan, serta mengurangi efek samping ketika manusia berada di dataran tinggi atau lingkungan rendah oksigen.
Para arkeolog mengungkapkan, hal paling menarik dari penelitian ini bukanlah lama waktu penggunaan daun koka, melainkan tujuan dari penggunaannya. Mereka mengatakan, daun koka tersebut tidak digunakan untuk kepentingan rumah tangga.
“Kami menemukan bahwa hal ini tidak diproduksi untuk kepentingan rumah tangga, seolah ini diproduksi untuk kepentingan banyak orang,” kata Tom Dillehay dari Vanderbilt University, Amerika Serikat.
Selain memperkaya khazanah arkeologis, penelitian ini juga sangat kontekstual terkait dengan program pengurangan produksi daun koka disebabkan keterkaitannya dengan kokain di wilayah Andes.
“Beberapa orang berargumen bahwa tradisi mengunyah daun koka adalah tradisi yang relatif baru. Bukti ini menunjukkan bahwa mengunyah kokain telah berakar di masyarakat Andes, berkaitan dengan sisi ekonomi, sosial dan kepercayaan,” urainya. Read More..

Bagaimana Mamalia Raksasa Berkembang?

Indricotherium transouralicum, mamalia berukuran raksasa.
Bila saat ini kita mengenal gajah sebagai mamalia terbesar di darat, pada 25 hingga 35 juta tahun yang lalu berkembang pula jenis mamalia raksasa yang lebih besar dari gajah. Tinggi mamalia raksasa itu bisa mencapai lebih dari 5 meter dan beratnya pun mencapai ribuan kilogram.
Salah satu mamalia terbesar yang tercatat adalah Indricotherium transouralicum. Makhluk itu tingginya yang bisa mencapai 5,5 meter, panjang 9,2 meter, dan berat 20-30 ton.
Bersanding dengan hewan ini, terdapat juga mamalia-mamalia lain yang berukuran besar saat itu. Semua golongan mamalia super tersebut, menurut pendapat para ahli, merupakan herbivora.
Baru-baru ini, sekelompok ilmuwan meneliti sebab-sebab berkembang pesatnya mamalia puluhan juta tahun lalu. Salah satu anggota tim penelitinya adalah Jessica Theodor dari University of Calgary, Alberta, Kanada.
Berdasarkan hasil penelitian, Theodor mengungkapkan adanya dua faktor yang menyebabkan mamalia tumbuh besar, yaitu ketersediaan bahan makanan yang melimpah dan tekanan seleksi untuk tumbuh besar.
Saat dinosaurus masih eksis, mamalia kalah dalam berkompetisi. Sumber makanan mamalia telah dimakan oleh dinosaurus. Oleh karenanya, ukuran tubuh yang kecil lebih efisien dalam keterbatasan sumber makanan saat itu.
Kondisi berubah saat dinosaurus punah, khususnya pada herbivora. “Setelah dinosaurus punah, tak ada hewan yang memakan tumbuhan,” jelasnya. Mamalia herbivora pun memiliki sumber makanan yang melimpah.
Mamalia herbivora sendiri dituntut secara alami untuk tumbuh besar. “Menjadi besar menghindarkan herbivora dari predator, herbivora besar jarang menjadi mangsa,” ujar Theodor.
Lalu, bagaimana dengan mamalia karnivora? Penelitian menunjukkan bahwa ukuran hewan karnivora memang berubah, tetapi tak bisa mencapai ukuran sebesar herbivora.
Peneliti mengungkapkan, jika ukuran karnivora besar, maka hal itu justru merugikan. “Ukuran bisa menjadi masalah bagi predator. Mangsa dengan mudah menyadari keberadaannya dan lari,” ungkap Theodor.
Perubahan ukuran mamalia yang terjadi puluhan juta tahun yang lalu itu, menurut peneliti, sangat signifikan. “Saat dinosaurus punah, ukuran maksimal mamalia hanya 1 hingga 10 kg. 25 juta tahun kemudian, ukuran mamalia bisa mencapai ribuan kali dari ukuran semula,” kata Theodor.
Penelitian Theodor dipublikasikan dalam jurnal Science yang terbit baru-baru ini. Read More..

Ditemukan, Kolam Era Romawi di Yerusalem

Deretan pilar-pilar berukuran besar peninggalan Romawi
Ketika tengah mengekskavasi lokasi yang direncanakan hendak dibangun menjadi pemandian suci bagi umat Yahudi di Yerusalem, para arkeolog Israel menemukan sebuah kompleks kolam kuno.
Mereka segera saja memperkirakan kolam itu berasal dari zaman Romawi yang terkubur di kota itu sejak hampir 2.000 tahun lalu.
Penemuan itu diumumkan 22 November lalu. Ofer Sion, direktur pelaksanaan ekskavasi Jewis Quarter of Jerusalem’s Old City, mengatakan, penemuan ini akan membuktikan bahwa kota-kota masa Romawi lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Ini sangat penting karena selama ekskavasi di Jewis Quarter, kami tidak pernah menemukan bangunan dari abad kedua dan ketiga,” kata Sion.
Pada kolam Romawi tersebut, para arkeolog menemukan tangga yang menuju lantai mosaik putih dan ratusan genteng atap terakota yang bertatahkan nama sebuah unit tentara Romawi, Tenth Legion. Sion menduga, kolam itu menjadi salah satu tempat para prajurit mandi.
Ketika kolam tersebut telah selesai diekskavasi, pemerintah Yerusalem memutuskan tetap menggunakan tempat tersebut sebagai pemandian suci bagi umat Yahudi atau mikweh.
Lembaga kepurbakalaan Israel mengatakan, desain dari kolam tua Romawi itu akan terintegrasi dengan desain kolam baru.
Arkeologi dan politik kadang saling adu kepentingan di Yerusalem, terutama di wilayah kota tuanya di mana terdapat banyak peninggalan sejarah.
Rafi Greenberg, arkeolog dari Unievrsitas Tel Aviv mengatakan, pemerintah Israel kadang terlalu fokus menemukan peninggalan umat Yahudi dengan mengorbankan sisa-sisa sejarah dari masa atau kekuasaan yang lain
“Setiap bangunan modern di kota tua didirikan di atas bangunan tua. Pertanyaannya sekarang, apakah pihak yang berkaitan dengan keagamaan cukup toleran untuk menerima sejarah lain (alternatif)?” ungkap Greenberg.
Kolam tua dari zaman Romawi itu diduga dibangun pada masa pemerintahan Romawi di wilayah Yerusalem. Romawi menguasai wilayah tersebut setelah menjatuhkan kerajaan Yahudi dan mendirikan kota Aelia Capitolina sebagai ibu kota dari propinsi Syria-Palestina. Read More..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
next page