Minggu, 28 April 2013

Analisa Rasio Laporan Keuangan

Analisa Rasio Laporan Keuangan Sebelumnya kami telah memposting contoh Laporan Keuangan dari PT Mandom Indonesia untuk dianalisa dengan analisa perbandingan laporan keuangan. Pada postingan kali ini, kami akan memenuhi tugas kelompok berikutnya untuk menganalisa Laporan Keuangan tersebut dengan Analisa Rasio.

Nama Anggota :
Fitri Apriyanti (42210826)
Hani Tia Rahayu (48210958)
Hesti Intan D (43210302)
Ibrahim Dapetenta G. (49210389)

Kelas : 3DA01



RATIO LIKUIDITAS
1.Current Ratio  =  Harta Lancar / Hutang Lancar
Current ratio tahun 2011= (Rp. 671.882.437.539 / Rp. 110.452.261.687) x 100% = 608,3%
Current ratio tahun 2010 = (Rp. 610.789.437.218 / Rp. 98.762.035.129) x 100% =  618,4%

Analisis : Current Ratio dari data diatas dapat ditentukan bahwa current ratio perusahaan tersebut adalah 6:1 atau 600% yang berarti bahwa jumlah aktiva lancar ada enam kali dari jumlah hutang lancar atau setiap  Rp.1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 6 aktiva lacar atau Rp. 1 modal kerja jadi current ratio pada tahun 2010 adalah sebesar 618,4% dan pada tahun 2011 adalah sebesar 608,3%.

2.Cash ratio = (Kas + Surat berharga)/ Hutang Lancar
Cash Ratio tahun 2011 =  (Rp. 89.862.335.910 + 0) / Rp. 110.452.261.687 = 813,6%
Cash Ratio tahun 2010 = (Rp. 129.104.545.843 + 0) / Rp. 98.762.035.129 = 130,72%

Analisis : dari data diatas dapat ditentukan bahwa cash ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 130,72% dan 813,6%

3.Quick Ratio = ( Aktiva lancar – Persediaan) / Hutang Lancar
Quick Ratio tahun 2011 = (Rp. 671.882.437.539. – Rp.278.433.445.457) / Rp. 110.452.261.687 = 356,2%
Quick ratio tahun 2010 = (Rp. 610.789.437.218 – Rp. 193.132.525.220) / Rp. 98.762.035.129 =  423%

Analisis : dari data diatas dapat ditentukan bahwa Quick Ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 356,2% dan 423%.

RATIO SOLVABILITAS

1. Ratio Modal dengan Aktiva :
2010 : Modal Sendiri / Total Aktiva = Rp 948.480.404.874 / Rp 1.047.238.440.003 = 0,905 = 90,5%                   
2011 : Modal Sendiri / Total Aktiva = Rp 1.020.412.800.735 / Rp 1.130.865.062.422 = 0,902 = 90,2%
                   
Analisis: Ratio modal dengan aktiva pada perusahaan dari data diatas adalah aktiva lebih besar daripada modal. Sehingga ratio pada tahun 2010 sebesar 90,5% dan 2011 sebesar 90,2%. Persentase pada tahun 2011 lebih rendah dibanding tahun 2010.

2. Ratio Modal dengan Aktiva Tetap :
2010 : Modal Sendiri/ Aktiva Tetap =Rp 173.865.626.016 / Rp 436.449.002.785 = 0,398 = 39,8%                
2011 : Laba Usaha / Aktiva Tetap =Rp 193.065.034.262 / Rp 458.982.624.883 = 0,420 = 42%
                  
Analisis : Ratio modal sendiri dengan aktiva tetap pada perusahaan dari data diatas adalah aktiva tetap lebih besar dari modal. Sehingga ratio pada tahun 2010 sebesar 39,8% dan tahun 2011 sebesar 42%. Persentase ratio ini pada tahun 2011 lebih tinggi daripada tahun 2010.

3. Ratio Aktiva dengan Hutang Jangka Panjang :
2010 : Aktiva Tetap/ Hutang Jangka Panjang = Rp 436.449.002.785/ Rp 41.592.045.669 = 10,49           
2011 : Aktiva Tetap/ Hutang Jangka Panjang = Rp 458.982.624.883/ Rp 53.235.797.928 = 8,62
                
Analisis : Ratio aktiva dengan Hutang jangka panjang pada perusahaan dari data di atas aktiva tetap lebih besar daripada hutang jangka panjang. Sehingga ratio pada tahun 2010 sebesar 10,49 dan tahun 2011 sebesar 8,62. Pada tahun 2010 memiliki ratio yang lebih tinggi dibanding pada tahun 2011.

4. Ratio Hutang Jangka Panjang dengan Modal Sendiri :
2010 : Hutang Jangka Panjang / Modal Sendiri = Rp 41.592.045.669 / Rp 948.480.404.874 = 0,04 = 4%          
2011 : Hutang Jangka Panjang / Modal Sendiri  = Rp 53.235.797.928 / Rp 1.020.412.800.735 = 0,05 = 5%
                                
Analisis : Ratio hutang jangka panjang dengan modal pada perusahaan, dari data diatas modal lebih besar daripada hutang jangka panjang. Pada tahun 2010 sebesar 4% sedangkan 2011 sebesar 5%. Ratio pada tahun 2011 lebih tinggi 1 % daripada tahun 2010.

5. Ratio Total Hutang dengan Modal Sendiri :
2010 : Total Hutang / Modal Sendiri = Rp 98.762.035.129 / Rp 948.480.404.874 = 0,104 = 10,4%             
2011 : Total Hutang /  Modal Sendiri = Rp 110.452.261.687 / Rp 1.020.412.800.735 = 0,108 = 10,8%
                     
Analisis : Ratio total hutang dengan modal pada perusahaan, dilihat dari data di atas, modal lebih besar daripada hutang. Sehingga ratio pada tahun 2010 sebesar 10,4% dan tahun 2011 sebesar 10,8%. Ratio tahun 2011 lebih tinggi 0,4% dari tahun 2010.

6. Ratio Total Hutang dengan Total Aktiva :
2010 : Total Hutang / Total Aktiva = Rp 98.762.035.129 / Rp 1.047.238.440.003 = 0,094 = 9,4%                     
2011 : Total Hutang / Total Aktiva = Rp 110.452.261.687 / Rp 1.130.865.062.422 = 0,098 = 9,8%
                     
Analisi : Ratio total hutang dengan total aktiva pada perusahaan, dilihat dari data diatas, total aktiva lebih besar daripada total hutang. Sehingga ratio pada tahun 2010 sebesar 9,4% dan tahun 2011 sebesar 9,8%. Ratio pada tahun 2011 lebih tinggi 0,4% dari tahun 2010.       

RATIO RENTABILITAS

1. Ratio Laba Usaha dengan Aktiva Usaha :
2010 : Laba Usaha / Aktiva Usaha = Rp 173.865.626.016 / Rp 1.047.238.440.003 = 0,166 = 16,6%       
2011 : Laba Usaha / Aktiva Usaha = Rp 193.065.034.262 / Rp 1.130.865.062.422 = 0,170 = 17%
                  
Analisis : dari data diatas dapat ditentukan bahwa ratio laba usaha dengan aktiva usaha pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 16.6 % dan 17 %

2. Perputaran Aktiva Usaha :
2010 : Penjualan / Aktiva Usaha  = Rp  1.466.938.711.851 / Rp 1.047.238.440.003 = 1,400 = 140%          
2011 : Penjualan / Aktiva Usaha  = Rp 1.654.671.098.358 / Rp 1.130.865.062.422 = 1,463 = 146,3%
        
Analisis : dari data diatas dapat ditentukan bahwa perputaran aktiva usaha pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 140% dan 146.3%

3. Gross Margin Ratio :
2010 : Laba Kotor / Penjualan = Rp  543.904.030.122 / Rp 1.466.938.711.851 = 0,370 = 37 %
2011 : Laba Kotor / Penjualan = Rp  601.326.048.646 / Rp 1.654.671.098.358 = 0,363 = 36,3%
              
Analisis : dari data diatas dapat ditentukan bahwa Gross Profit Margin pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 37% dan 36,3%

4. Operating Margin Ratio :
2010 : Laba Usaha / Penjualan =Rp  173.865.626.016 / Rp 1.466.938.711.851 = 0,118 = 11,8 %   
2011 : Laba Usaha / Penjualan = Rp  193.065.034.262 / Rp 1.654.671.098.358 = 0,116 = 11,6%
                   
Analisis : dari data diatas dapat ditwentukan bahwa Operating Margin Ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 11,8% dan 11,6%

5. Net Margin Ratio :
2010 : (Laba Bersih – Pajak) / Penjualan = (Rp  131.445.098.783 – Rp 42.080.327.961) / Rp 1.466.938.711.851 = 0,060 = 6 %                                                  
2011 : (Laba Bersih – Pajak) / Penjualan = (Rp 140.038.819.641 – Rp 50.103.933.205) / Rp 1.654.671.098.358 = 0,054 = 5,4%
                                                 
Analisis: dari data diatas dapat ditentukan bahwa Net Margin Ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 6% dan 5,4%

6. Operating Ratio :
2010 : (Harga Pokok – Biaya Operasi) / Penjualan  = ( Rp 923.034.681.729 – Rp 370.038.404.106) / Rp 1.466.938.711.851 = 0,060 = 6 %                                            
2011 : (Harga Pokok – Biaya Operasi ) / Penjualan = ( Rp 1.053.345.049.712 – Rp 408.261.014.384) / Rp 1.654.671.098.358 = 0,054 = 5,4%
                                                           
Analisis: dari data diatas dapat ditentukan bahwa Operating Ratio pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 6% dan 5,4%

7. Rate of ROI :
2010 : Laba bersih (Sebelum Pajak) / Jumlah Aktiva Usaha =  Rp 173.525.426.744 / Rp 1.047.238.440.003 = 0,165 = 16,5 %         
2011 : Laba bersih (Sebelum Pajak) / Jumlah Aktiva Usaha = Rp 190.142.752.846 / Rp 1.130.865.062.422 = 0,168 = 16,8%
                
Analisis: dari data diatas dapat ditentukan bahwa Rate of ROI pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 16,5% dan 16,8%

8. Net Rate of ROI :
2010 : Laba Bersih (Sesudah Pajak) / Jumlah Aktiva Usaha =  Rp 131.445.098.783 / Rp 1.047.238.440.003 = 0,125 = 12,5 %
2011 : Laba Bersih (Sesudah Pajak) / Jumlah Aktiva Usaha =  Rp 140.038.819.641 / Rp 1.130.865.062.422 = 0,123 = 12,3%
                
Analisis: dari data diatas dapat ditentukan bahwa Net Rate of ROI pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 12,5 % dan 12,3%

9. Rentabilitas Modal Sendiri :
2010 : Laba Bersih (Sesudah Pajak) / Modal Sendiri = Rp 131.445.098.783 / Rp 948.480.404.874 = 0,138 = 13,8 %                  
2011 : Laba Bersih (Sesudah Pajak) / Modal Sendiri = Rp  140.038.819.641 / Rp 1.020.412.800.735 = 0,137 = 13,7%
                                          
Analisis: dari data diatas dapat ditentukan bahwa Rentabilitas Modal Sendiri pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 13,8 % dan 13,7%
 
Read More..

Analisa Laporan Keuangan

Sebelumnya kami telah memposting contoh Laporan Keuangan dari PT Mandom Indonesia untuk dianalisa. Pada postingan kali ini, kami akan memenuhi tugas kelompok berikutnya untuk menganalisa Laporan Keuangan tersebut.

Nama Anggota : Fitri Apriyanti (42210826)
Hani Tia Rahayu (48210958)
Hesti Intan D (43210302)
Ibrahim Dapetenta G. (49210389)

Analisa Laporan Keuangan 
Analisa terhadap Neraca perbandingan dapat dilakukan dengan memperbandingkan perubahan yang terjadi dalam jumlah totalnya (keseluruhan), perubahan dalam sub total dan masing-masing pos secara individu dan memperbandingkan atau menghubungkan antara perubahan pos yang satu dengan perubahan pos-pos lainnya yang saling berkaitan atau yang mempunyai hubungan yang erat antara pos pos tersebut. Hasil dari analisa ini akan dapat membantu dalam mengambil keputusan terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Laporan Keuangan Perbandingan 










Hasil Analisa

Dari neraca yang diperbandingkan antara akhir tahun 2010 dengan 2011, menunjukkan: Jumlah rupiah masing-masing aktiva, hutang dan modal serta jumlah total masing-masing golongan aktiva, hutang dan modal pada tanggal 31 desember 2010 dan 31 desember 2011 dengan perubahan-perubahannya.

Dari perubahan (kenaikan da penurunan) dapat diketahui bahwa :
a. Aktiva lancar naik Rp. 61.093.000.321, sedangkan aktiva tidak lancar naik pada Rp. 22.533.622.098, hutang jangka pendek naik sebesar Rp. 50.474.299 dan hutang jangka panjang naik sebesar Rp. 11.643.752.259 serta modal naik sebesar Rp. 71.932.395.861. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan modal kerja (modal kerja= aktiva lancar dikurangi hutang lancar) yang kemungkinan di sebabkan oleh :
·  Diperolehnya keuntungan atau laba
·  Perubahan aktiva tetap menjadi aktiva lancar melalui proses penjualan ataupun
penyusutan
·  Diperolehnya hutang jangka panjang atau liabilitas jangka panjang.
·  Dengan adanya perubahan hutang lancar menunjukkan adanya perbaikan posisi keuangan jangka pendek.

b. Aktiva naik sebesar Rp.83.626.622.429, hutang  naik sebesar Rp.  11.643.752.259, dan  ekuitas naik sebesar Rp. 71.932.395.861.

c. Perubahan dalam jumlah-jumlah rupiah seperti yang diterangkan diatas (a dan b), Nampak lebih jelas lagi perubahan dalam prosentasenya. Aktiva lancar naik dengan 10% sedangkan aktiva tidak lancar hanya naik 8 %, total aktiva naik sebesar 8% dan hutang jangka pendek 0% dimana tidak naik dan tidak turun, dan hutang jangka panjang naik sebesar 28 % dan ekuitas sebesar 8%. Hal ini menunjukkan bahwa posisi keuangan jangka panjang dalam tahun 2011 lebih baik daripada tahun 2010. Perubahan-perubahan dalam prosentase ini lebih mendukung hasil analisa.

Dalam neraca yang diperbandingkan tersebut diketahui pula prosentasenya masing-masing pos terhadap jumlah aktiva ataupun jumlah hutang dan ekuitas. Data ini sangat membantu bagi pengambilan keputusan terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Analisis laporan laba rugi yang di perbandingkan antara periode 2010 dan 2011 akan di peroleh berbagai  kesimpulan yang dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan . di samping itu diketahui tingkat perkembangan dan efesiensi yang telah di capai misalnya:
a. Dalam tahun 2010, beban pokok yang di peroleh adalah 63% dan pada tahun 2011 beban pokok yang diperoleh sebesar 64 %. Hal ini akan memperngaruhi laba kotornya..

b. Adanya kenaikan penjualan dapat mengakibatkan perubahan naiknya laba bersih . walaupun bila dihubungkan dengan tingkat penjualannya kan menghasilkan  presentasenya sama  12%.

c. Biaya penjualan naik Rp 18,552,650,642 dan biaya umum & admin naik menjadi Rp 19,669,959,636.

d. Laba usaha yang di hasilkan pada tahun 2010 naik di 2011 menjadi Rp 193,065,034,262  kenaikan nya hingga Rp 19,99,408,246.

e. Pada tahun 2010 ke 2011 laba berih tahunnan mengalami kenaikan yang tadinya tahun 2010 sebesar Rp 131,445,098,783  pada tahun 2011 sebesar Rp 140,038,819,641. Kenaikan itu sebesar Rp 8,593,720,858.

Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Ditinjau dari faktor likuiditas tahun 2011 lebih baik daripada likuiditas tahun 2010, karena current ratio (aktiva lancar dibandingkan dengan hutang lancar) tahun 2010 sebesar 1068% (610.789.437.218 : 57.165.989.460 x 100%)yang berarti bahwa setiap Rp 1,- hutang lancar dijamin dengan Rp 10,68 aktiva lancar atau dijamin Rp 10,68 modal kerja, sedang dalam tahun 2011 sebesar 1174% (671.882.437.539 : 57.216.463.759 x 100%)atau setiap Rp 1,- hutang lancar dijamin dengan Rp 11,74 aktiva lancar.    
       
2. Ditinjau dari faktor solvabilitas tahun 2011 lebih solvabel daripada tahun 2010 karena solvabilitas tahun 2011 (jumlah aktiva dibanding dengan jumlah hutang) ada 1023% (1.130.865.062.422 : 110.452.261.687 x 100%) sedang tahun 2010 hanya 1060% (1.047.238.440.003 : 98.758.035.129 x 100%).

3. Ditinjau dari rentabilitas atau efisiensi perusahaan secara keseluruhan, maka tahun 2011 lebih efisen dibanding tahun 2010. Rentabilitas ekonomis tahun 2011 ada 8% (1.130.865.062.422 : 1.047.238.440.003 x 100%) sedang tahun 2010 hanya 10% (671.882.437.539 : 610.789.437.218 x 100%), rentabilitas modal sendiri (tanpa memperhatikan beban pajak) dalam tahun 2011 19% (190.142.752.846 : 1.020.412.800.735 x 100%)dan tahun 2010 18% (173.525.426.744 : 948.480.404.874 x 100%).
 


 
Read More..

Contoh Laporan Keuangan

Kami mengambil Laporan Keuangan dari PT Mandom Indonesia per 31 Desember 2010-2011 sebagai tugas kelompok untuk dianalisa.

Nama Anggota :
Fitri Apriyanti (42210826)
Hani Tia Rahayu (48210958)
Hesti Intan D (43210302)
Ibrahim Dapetenta G. (49210389)

PT Mandom Indonesia Tbk berdiri sebagai perusahaan joint venture antara Mandom Corporation, Jepang dan PT The City Factory. Perseroan berdiri dengan nama PT Tancho Indonesia dan pada tahun 2001 berganti menjadi PT Mandom Indonesia Tbk.

LAPORAN KEUANGAN 

Read More..

Jumat, 29 Maret 2013

Ruang Lingkup Laporan Keuangan

A. Arti Pentingnya Laporan Keuangan
Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi dan kondisi keuangan, sangat membutuhkan informasi keuangan yang dapat diperoleh dari laporan keuangan. Informasi tersebut disusun dan disajikan perusahaan dalam bentuk neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas. Informasi tersebut sangat diperlukan oleh pihak-pihak yang go public dalam persiapannya untuk melakukan penawaran umum karena salah satu syarat perusahaan yang go public adalah harus menyerahkan laporan keuangannya selama dua tahun terakhir yang sudah diperiksa oleh akuntan publik.

Setiap perusahaan mempunyai laporan keuangan yang bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan secara ekonomi. Laporan keuangan harus disiapkan secara periodik untuk pihak-pihak yang berkepentingan. 

Tujuan Laporan Keuangan adalah untuk 
▪ Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. 
▪ Tujuan laporan keuangan → memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. 

B. Pengertian Laporan Keuangan 
Laporan keuangan adalah menurut Baridwan (1992 : 17) laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama dua tahun buku yang bersangkutan. 

Menurut Sundjaja dan Barlian (2001 : 47) laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan atau aktivitas perusahaan. 

Sedangkan definisi laporan keuangan menurut Munawir (1991 : 2) laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan. 

Dapat disimpulkan laporan keuangan adalah laporan akuntansi utama yang mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi. 

C. Pengertian Dasar Analisis Laporan Keuangan 

Analisa Laporan Keuangan terdiri dari dua kata Analisa dan Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini maka kita dapat menjelaskannya dari arti masing-masing kata. Kata analisa adalah memecahkan atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi, dan Arus Kas (Dana). 

Kalau dua pengertian ini digabungkan maka analisa laporan keuangan berarti: Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat (Sofian Syafri Harahap, 1998:190). 

Pengertian analisis laporan keuangan (financial statement analysis) menurut Soemarso (2006:430), adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena. 

Menganalisis laporan keuangan, berarti melakukan suatu proses untuk membedah laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya, menelaah masing-masing unsur tersebut, dan menelaah hubungan antara unsur-unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat atas laporan keuangan tersebut (Dwi Prastowo, 2002:52). 

Untuk membantu pembaca dalam menafsirkan data bisnis, laporan keuangan biasanya disajikan dalam bentuk komparatif. Laporan komparatif adalah laporan keuangan yang disajikan berdampingan untuk dua tahun atau lebih (Simamora, 2003:515). Melalui laporan keuangan akan dapat dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, struktur modal perusahaan, distribusi aktivanya, keefektifan penggunaan aktiva, hasil usaha/ pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar, serta nilai-nilai buku tiap lembar saham perusahaan yang bersangkutan. 

D. Syarat-Syarat Laporan Keuangan 

Laporan keuangan akan lebih bermanfaat apabila memenuhi syarat-syarat seperti dibawah ini: 
a) Relevan : Data yang diolah dan disajikan dalam laporan keuangan hanyalah data yang ada kaitannya dengan transaksi yang bersangkutan. Data yang tidak perlu diungkapkan dan tidak ada kaitannya dengan kegiatan perusahaan tidak perlu disajikan. 

b) Jelas dan dapat dimengerti : Informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan harus ditampilkan dengan cara sedemikian rupa hingga jelas dapat dipahami dan dimengerti oleh semua pembaca laporan keuangan. Dengan demikian, para pemakai laporan keuangan dapat mengambil keputusan yang relevan dari informasi yang dibaca. 

c) Dapat diuji kebenarannya : Data dan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat ditelusuri kepada bukti asalnya, baik dalam bentuk dokumen dasar, formulir berharga, maupun fisik aktiva bersangkutan. Semua data dan informasi yang disajikan harus dapat dipertanggungjawabkan oleh manajemen perusahaan. 

d) Netral : Laporan keuangan haruslah disajikan untuk dapat dipergunakan oleh semua pihak. Laporan keuangan tidak ditujukan untuk memenuhi pihak-pihak tertentu, sehingga harus dibuat lebih dari satu macam laporan keuangan sesuai dengan kebutuhan informasi para pemakai. Laporan keuangan yang disajikan harus dibuat tidak bias atau harus netral sehingga semua pihak dapat mempergunakannya. 

e) Tepat waktu : Laporan keuangan harus memiliki periode pelaporan, sehingga jelas batas pelaporan dari posisi harta, hutang, modal, pendapatan, dan biaya dari perusahaan yang akan dilaporkan. Waktu penyajiannya harus dinyatakan dengan jelas dan disajikan dalam batas waktu yang wajar, dalam arti tidak terlalu terlambat sehingga dapat digunakan oleh manajemen untuk mengambil keputusan yang sifatnya manajerial maupun teknikal. 

f) Dapat diperbandingkan : Laporan keuangan yang disajikan harus dapat diperbandingkan dengan periode-periode sebelumnya sebagai dasar untuk mengikuti perkembangan arah (trend) dari harta, hutang, modal, pendapatan, serta biaya. Dasar dari laporan yang dapat diperbandingkan adalah penerapan prinsip akuntansi secara konsisten. 

g) Lengkap : Data yang disajikan dalam informasi akuntansi, baik dalam neraca, ikhtisar laba-rugi, maupun ikhtisar posisi keuangan, haruslah lengkap sehingga tidak memberikan informasi yang menyesatkan bagi para pemakai laporan keuangan. Keutuhan data akuntansi merupakan syarat mutlak bagi tercapainya azas relevan. 

E. Keterbatasan Laporan Keuangan 
Laporan keuangan mempunyai kelemahan: 
1. Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya merupakan laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara

2. Laporan keuangan menunjukan angka yang kelihatanya bersifat pasti dan tepat, tetapi dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah

3. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan

4. Laporan keuangan bersifat sejarah (histories) yang merupakan laporan kejadian-kejadian di masa lalu atau yang telah lewat

5. Laporan keuangan itu bersifat umum, dan bukan untuk memenuhi keperluan tiap-tiap pemakai

6.Laporan keuangan itu bersifat konservatif dalam sikapnya menghadapi ketidakpastian

7. Laporan keuangan lebih menekankan keadaan yang sebenarya dilihat dari sudut ekonomi daripada berpegang pada formilnya

8. Laporan keuangan menggunakan istilah-istilah tekhnis, sering terdapat istilah-istilah yang umum tetapi diberi pengertian yang khusus. 

Keterbatasan Laporan Keuangan dengan melihat beberapa sifat laporan keuangan tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa laporan keuangan itu mempunyai beberapa keterbatasan antara lain: 
1. Laporan keuangan dibuat antara waktu tertentu (interm report) dan bukan merupakan laporan final. 
2. Adanya beberapa standar nilai yang bergabung. Beberapa aktiva, biasanya aktiva tetap dilaporkan berdasarkan harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penghapusannya, karenanya nilai aktiva itu dalam laporan keuangan akan tercantum sebesar nilai bukunya. 

3. Adanya pengaruh daya beli uang berubah. Daya beli uang dari hari kehari selalu berubah sesuai dengan kehidupan perekonomian sehari-hari. 

4. Adanya faktor-faktor yang tidak dinyatakan dengan uang, Laporan keuangan adalah akumulasi dari kejadian-kejadian atau transaksi-transaksi perusahaan yang dapat dinyatakan dengan satuan uang. 

5. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat, oleh karena itu laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. 

6. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak tertentu. 

7. Proses penyusunan iaporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran - taksiran dan berbagai pertimbangan. 

8. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. 

9. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Bila terdapat beberapa kemungkinan konklusi yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternative yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. 

10. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomi suatu peristiwa / transaksi dari pada bentuk hukumnya (formalitas). 

11. Laporan keuangan di susun dengan istlah-istilah teknis. 

12. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomi dan tingkat kesuksesan antar perusahaan. 

13. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dikuantifikasikan umumnya diabaikan. 

14. Nilai yang tercantum dineraca hanyalah nilai pada suatu saat tertentu saja. 

15. Analisis harus menyadari kemungkinan adanya suatu window dressing. 

16. Nilai beli rupiah makin lemah. 

F. Peranan Pemeriksaan Akuntan Publik 
Akuntan publik atau pemeriksa independen adalah akuntan yang menjual jasa profesionalnya kepada masyarakat/klien, terutama untuk jenis pemeriksaan laporan keuangan. Untuk dapat berpraktek sebagai akuntan publik di Indonesia, seseorang harus telah lulus dari fakultas ekonomi jurusan akuntansi dan memperoleh gelar akuntan dan memperoleh ijin praktek dari Departemen Keuangan.

Jasa yang diberikan oleh akuntan publik adalah memberikan jasa pemeriksaan laporan keuangan agar dapat dipergunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam melakukan pemeriksaan tersebut akuntan harus selalu berpedoman pada tiga hal yakni: Norma Pemeriksaan Akuntan, Prinsip Akuntansi Indonesia, dan kode etik profesi. 

Berikut ini merupakan jasa yang diberikan oleh akuntan public :
a. Jasa dibidang perpajakan 
b. Membantu membuat sistem akuntansi 
c. Konsultan dalam bidang manajemen 

G. Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan 
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri: 
a. Neraca: laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu menunjukkan posisi keuangan (aktiva, utang dan modal) pada saat tertentu. Tujuan neraca adalah menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (misalnya pada tanggal 31 Desember 200x) 

b. Laporan laba rugi: suatu laporan yang menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai Biaya, dan laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu. 

c. Laporan saldo laba: menunjukkan perubahan laba ditahan selama periode tertentu. 

d. Laporan arus kas: Menujukkan arus kas selama periode tertentu. 

e. Catatan atas laporan keuangan: berisi rincian neraca dan laporan laba rugi, kebijakan akuntansi, dan lain sebagainya. 

H. Hubungan Antara Berbagai Laporan Keuangan

Satu set lengkap laporan keuangan umumnya mencakup neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal (juga disebut ‘ekuitas pemegang saham’), dan laporan arus kas. Laporan keuangan secara keseluruhan menyajikan berbagai jenis informasi tentang kegiatan perusahaan selama periode waktu tertentu dalam angka-angka. Masing-masing laporan, meskipun banyak yang saling terkait, tetap memiliki peranan berbeda, dengan sudut pandang dan fokus penyajian yang berbeda-beda pula. Dengan demikian, maka satu macam laporan tidak bisa menggantikan laporan yang lain. 

 
Hubungan Antara Berbagai Laporan Keuangan

 
Kedelapan hubungan diidentifikasi oleh nomor dalam tanda kurung: 
(1) Pendapatan dan biaya, yang disajikan dalam laporan laba rugi, mengakibatkan perubahan dalam aktiva dan kewajiban dalam neraca. 

(2) Laba bersih mengalir ke dalam laporan perubahan modal (ekuitas pemegang saham) dan merupakan determinan penting dari saldo akhir periode laba ditahan. 

(3) Saldo akhir akun modal (ekuitas) memberikan kontribusi dalam laporan ekuitas sesuai dengan jumlah yang sama di pemegang saham bagian ekuitas pada neraca. 

(4) Saldo akhir dari laba ditahan dalam laporan ekuitas sesuai dengan saldo laba ditahan pada pemegang saham ‘bagian ekuitas pada neraca. 

(5) Saldo akhir kas dalam laporan arus kas sesuai dengan jumlah uang tunai disajikan di neraca. 

(6) Arus kas dari aktivitas operasi dalam laporan arus kas mencerminkan efek kas dari transaksi-transaksi termasuk dalam penentuan laba bersih. Rekonsiliasi laba bersih dan arus kas bersih dari aktivitas operasi disajikan sebagai bagian dari laporan arus kas. 

(7) Aktivitas investasi dalam laporan arus kas mencerminkan arus kas positif dan negatif dari perubahan dalam aset yang berakhir saldo termasuk dalam neraca. 

(8) Pembiayaan kegiatan dalam laporan arus kas mencerminkan arus kas positif dan negatif dari hutang dan ekuitas transaksi pembiayaan. Akhir-dari periode saldo utang dan ekuitas disajikan dalam neraca. 


Sumber : 
- http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2130426-pengertian-analisis-laporan-keuangan/ 
- http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/laporan-keuangan-pengertian-dan-dasar.html 
- http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:OA8gGsINE4YJ:staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-1-PENYAJIAN-LAPORAN-KEUANGAN.pdf+ruang+lingkup+laporan+keuangan&hl=id&gl=id 
- http://vinda-mystory.blogspot.com/2011/10/tujuan-dan-syarat-syarat-laporan.html 
- http://webcache.googleusercontent.com
/search?q=cache:1Gz1hPao72kJ:ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/26-keterbatasan-laporan-keuangan.pdf+&hl=id&gl=id
- http://ariearjunaug.blogspot.com/2011/03/bentuk-bentuk-laporan-keuangan.html 
- http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/07/hubungan-neraca-laba-rugi-arus-kas-perubahan-modal
Read More..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
next page